AYAT-AYAT MUHKAM DAN MUTASYABIH


A. PENGERTIAN AYAT-AYAT MUHKAM DAN MUTASYABIH

1. Pengertian secara bahasa

Muhkam berasal dari kata ihkam yang secara bahasa berarti kekukuhan, kesempurnaan, keseksamaan, dan pencegahan. Namun, semua pengertian ini pada dasarnya kembali kepada makna pencegahan. Ahkam al-amr berarti Ia menyempurnakan suatu hal dan mencegahnya dari kerusakan; Ahkam al-faras berarti ia membuat kekang pada mulut kuda untuk mencegahnya dari goncangan.

Mutasyabih berasal dari kata tasyabuh yang secara bahasa berarti keserupaan dan kesamaan yang biasanya membawa kepada kesamaran antar dua hal. Tasyabaha dan Isytabaha berarti dua hal yang masing-masing menyerupai yang lainnya. 

2. Pengertian secara istilah

a) Ulama golongan ahlus sunnah wal-jamaah mengatakan lafal muhkam adalah lafal yang diketahui makna maksudnya. Sedangkan lafal mutasyabih adalah lafal yang pengetahuan artinya hanya dimonopoli Allah SWT.
b) Ulama golongan hanafiyah mengatakan lafal muhkam ialah lafal yang jelas petunjuknya, dan tidak mungkin telah dinasakh (dihapus hukumnya). Sedang lafal mutasyabih adalah lafal yang sama maksud petunjuknya.
c) Sebagian ulama’ berpendapat, bahwa lafal muhkam ialah lafal yang rasional artinya. Sedangkan lafal mutasyabih ialah sebaiknya, yaitu lafal yang tidak masuk akal, atau tidak mudah diterima akal pikiran. 

Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan, Muhkam ialah lafal yang artinya diketahui dengan jelas dn kuat secara berdiri sendiri tanpa ditakwilkan karena susunan tertibnya tepat, dan tidak musykil. Sedangkan penegertian mutasyabih ialah lafal Al-Quran yang artinya samar, sehingga tidak dapat dijangkau akal manusia karena bisa ditakwilkan macam-macam sehingga tidak dapat berdiri sendiri. Karena merupakan ilmu yang hanya dimonopoli Allah SWT.

B. SEBAB – SEBAB ADANYA AYAT MUHKAMAH DAN MUTASYABIHAT

Allah SWT berfirman :

هُوَ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ مِنۡهُ ءَايَٰتٞ مُّحۡكَمَٰتٌ هُنَّ أُمُّ ٱلۡكِتَٰبِ وَأُخَرُ مُتَشَٰبِهَٰتٞۖ 
Artinya : “Dia-lah yang menurunkan Al kitab (Al Quran) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, Itulah pokok-pokok isi Al qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat...” (QS. Ali Imran : 7) 

Menurut kebanyakan ulama, sebab adanya ayat-ayat muhkamat itu sudah jelas, yakni sebagaimana sudah ditegaskan dalam ayat di atas. Dan seperti keterangan pada surat Hud ayat 1. Juga karena kebanyakan tertib dan susunan ayat-ayat Al-Quran itu rapi dan urut, sehingga dapat dipahami dengan mudah.

Pada garis besarnya, sebab adanya ayat-ayat mutasyabihat dalam Al-Quran ialah karena adanya kesamaran maksud syarak dalam ayat-ayatNya sehingga sulit dipahami umat. 

Secara rinci, adanya ayat-ayat mutasyabihat dalam Al-Quran adalah disebabkan 3 hal : yaitu karena kesamaran pada lafal, pada makna, dan pada lafal dan maknanya.

a. Kesamaran pada lafal

Sebagian adanya ayat-ayat mutasyabihat dalam Al-Quran itu disebabkan karena kesamaran pada lafal, baik lafal yang masih mufrad atau pun yang sudah murakkab.
Sebab kesamaran lafal ini ada 2 macam, sebagai berikut :

1) Kesamaran dalam lafal mufrad

Maksud kesamaran dalam lafal mufrad yaitu ada lafal-lafal mufrad yang artinya tidak jelas, baik disebabkan lafalnya yang gharib(asing), atau musytarak (bermakna ganda).
a) Contoh kesamaran lafal mufrod yang asing ialah seperti adanya lafal اَبًّا dalam ayat 31 surah Abasa.
b) Contoh kesamaran lafal mufrad yang bermakna ganda, seperti lafal الْيَمِيْنُ dalam ayat 93 surah Shaad. 

2) Kesamaran dalam lafal murakkab

Kesamaran dalam lafal murakkab itu disebabkan karena lafal-lafal yang murakkab (lafal yang tersusun dalam kalimat) itu teralu ringkas, atau terlalu luas, atau karena susunan kalimatnya kurang tertib.

a) Contoh tasyabuh dalam lafal murakkab yang terlalu ringkas. Misalnya firman Allah SWT dalam ayat 3 surah An-Nisa’.
b) Contoh tasyabuh lafal murakkab karena terlalu luas, seperti dalam ayat 11 dari Asy-Syura شَىٌٔ كَمِثْلِهِ لَيْسَ. 

b. Kesamaran pada makna ayat

Terkadang terjadinya ayat mutasyabihat itu disebabkan karena adanya kesamaran pada makna ayat. Contohnya seperti makna dari sifat-sifat Allah. Dan juga seperti makna dari ihwal hari kiamat, kenikmatan surga, siksa kubur, dan siksa neraka. Akal pikiran manusia tidak akan bisa menjangkau semua hal tersebut, sehingga makna-maknanya sulit mereka tangkap. Bagaimana mereka mengerti arti maksud ayatnya, sedangkan mereka tidak pernah melihatnya.

c. Kesamaran pada lafal dan makna ayat

Terkadang adanya ayat mutasyabihat terjadi disebabkan kesamaran dalam lafal dan makna ayat-ayat itu.

Contohnya, ayat 189 surah Al-Baqarah :

وَلَيۡسَ ٱلۡبِرُّ بِأَن تَأۡتُواْ ٱلۡبُيُوتَ مِن ظُهُورِهَا وَلَٰكِنَّ ٱلۡبِرَّ مَنِ ٱتَّقَىٰۗ وَأۡتُواْ ٱلۡبُيُوتَ مِنۡ أَبۡوَٰبِهَاۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ  ١٨٩

Artinya : “.....dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa...”

Ayat diatas sulit dipahami. Dan perlu diberi penjelasan, misalnya dengan menambahkan lafal عُمْرَةٍ اَوْ بِحَجِّ مُحْرِمِيْنَ كُنْتُمْ اِنْ. Dengan demikian ayat ini mengandung pemahaman “dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya jika kamu dalam keadaan ihram pada waktu pelaksanaan haji atau umrah.

C. MACAM-MACAM AYAT MUTASYABIHAT

Macam-macam ayat mutasyabihat ada 3 macam, yaitu :

a. Ayat-ayat mutasyabihat yang tidak dapat diketahui oleh seluruh umat manusia, kecuali Allah SWT. Contohnya seperti Dzat Allah SWT, hakikat sifat-Nya, dsb. Seperti keterangan pada surah Al-An’am ayat 59.
b. Ayat-ayat mutasyabihat yang dapat diketahui oleh semua orang dengan jalan pembahasan dan pengkajian yang mendalam.
c. Ayat-ayat mutasyabihat yang hanya dapat diketahui oleh para pakar dan ilmu sains, bukan oleh semua orang. Seperti keterangan pada surah Ali Imran ayat 7.

D. PENDAPAT PARA ULAMA MENGENAI AYAT MUHKAMAT DAN MUTASYABIHAT

a. Ulama salaf

Dari madzhab salaf, yaitu para ulama yang mempercayai dan mengimani ayat-ayat mutasyabih dan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah sendiri. Pada intinya, mereka menyerahkan urusan hakikat mereka kepada Allah.

b. Ulama khalaf

Ulama ini lebih dikenal dengan nama madzhab takwil. Mereka menakwilkan semua sifat-sifat yang terdapat pada ayat-ayat mutasyabihat denga takwilan yang rasional. Bersemayam mereka takwilkan dengan pengendalian Allah terhadap alam ini tanpa merasa kesulitan. Wajah mereka artikan Dzat Allah. Mata mereka artikan dengan pengawasan. Tangan mereka artikan dengan kekuasaan Allah.

E. HIKMAH AYAT MUHKAMAT DAN MUTASYABIHAT

a. Hikmah ayat-ayat muhkam

1) Menjadi rahmat bagi manusia, khususnya orang kemampuan bahasa Arabnya lemah. Dengan adanya ayat-ayat muhkam yang sudah jelas arti maksudnya sangat besar arti dan faedahnya bagi mereka.
2) Memudahkan bagi manusia mengetahui arti dan maksudnya. Juga memudahkan bagi mereka dalam menhayati makna maksudnya agar mudah mengamalkan pelaksanaan ajaran-ajarannya.
3) Mendorong umat untuk giat memahami, menghayati, dan mengamalkan isi kandungan Al-Quran, karena lafal ayat-ayatnya telah mudah diketahui, gampang dipahami, dan jelas pula untuk diamalkan.
4) Menghilangkan kesulitan dan kebingungan umat dalam mempelajari isi ajarannya, karena lafal ayat-ayatnya dengan sendirinya sudah dapat menjelaskan arti maksudnya, tidak harus menunggu penafsiran atau penjelasan dari lafal ayat atau surah yang lain.

b. Hikmah ayat-ayat mutasyabih

1) Memperlihatkan kelemahan akal manusia. Akal sedang dicoba untuk meyakini keberadaan ayat-ayat mutasyabiih sebagaimana Allah memberi cobaan pada badan untuk beribadah. Seandainya akal yang merupakan anggota badan paling mulia itu tidak diuji, tentunya seseorang yang berpengetahuan tinggi akan menyombongkan keilmuannya sehingga enggan tunduk kepada naluri kehambaannya.
2) Teguran bagi orang-orang yang mengutak-atik ayat-ayat mutasyabih.
3) Membuktikan kelemahan da kebodohan manusia. Sebesar apapun usaha dan persiapan manusia, masih ada kekurangan dan kelemahannya.
4) Memperlihatkan kemukjizatan Al-Quran, ketinggian mutu sastra dan balaghahnya, agar manusia menyadari sepenuhnya bahwa kitab bukanlah buatan manusia biasa, melainkan wahyu ciptaan Allah SWT.
5) Mendorong kegiatan mempelajari disiplin ilmu pengetahuan yang bermacam-macam.
F. KESIMPULAN

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa ayat-ayat muhkam adalah ayat-ayat di dalam Al-Quran yang memiliki arti maupun makna yang jelas dan mudah untuk dipahami. Ayat-ayat mutasyabih adalah ayat-ayat yang di dalam Al-Quran belum jelas maknanya karena hanya Allah yang tahu maupun maknanya, tetapi jika diteliti ataupun dicari maknanya perlafadz akan menemukan arti maupun makna tersendiri yang mungkin dapat dipahami.

Kemudian pendapat para ulama terutama tentang ayat-ayat mutasyabih terdiri dari dua pendapat yaitu ulama salaf berpendapat bahwa ayat mutasyabih sepenuhnya diserahkan kepada hakikat Allah. Pada ulama khalaf berpendapat bahwa untuk mengetahui ayat-ayat mutasyabih dengan cara mentakwilkan perlafadz.
DAFTAR PUSTAKA

Djalal, Abdul. 1998. Ulumul Qur’an. Surabaya: Dunia Ilmu.

Syadali, Ahmad. 1997. Ulumul Qur’an I. Bandung: CV Pustaka Setia

uchu budi Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk orang banyak.

0 Response to "AYAT-AYAT MUHKAM DAN MUTASYABIH"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel