MEMAHAMI MODEL-MODEL MANAJEMEN KURIKULUM DI INDONESIA

MAKALAH MEMAHAMI MODEL-MODEL MANAJEMEN KURIKULUM DI INDONESIA

MEMAHAMI MODEL-MODEL MANAJEMEN KURIKULUM DI INDONESIA
Oleh : Luluk Sayyidatul Afiyah,S.Pd (16711018)
Pembimbing : Dr. Marno, M.ag

A. Pendahuluan

Pendidikan di Indonesia masih terus berkembang, mencari bentuk yang sesuai dengan keadaan zaman. Perubahan kurikulum yang terjadi hingga sepuluh kali sejak Indonesia merdeka, yang didalamnya berisi perubahan-perubahan tujuan dari setiap racikan kurikulum, maka berpengaruh juga dengan sistem pembelajaran siswa. Seperti halnya kurikulum yang telah diterapkan sekarang secara nasional, yaitu kurikulum 2013. 

Dalam pelaksanaan kurikulum 2013 ini mengalami berbagai revisi karena dinilai masih perlu perbaikan. Misalnya pada materi SD yang 80 % mengalami perubahan, seperti yang di ungkapkan Kepala Bidang Perbukuan Pusat Kurikulum dan Perbukuan Balitbang Kemendikbud Supriyatno di Jakarta, Kamis (8/1/2015) "Paling banyak perubahan buku tematik SD. Perubahan kompetensi inti dan kompetensi dasar itu hingga 80%,". Selain itu, untuk pelajaran matematika kelas 12, perubahan buku nyaris 100%, karena ada 10 bab buku harus diganti termasuk penempatan dari yang sebelumnya semester satu jadi semester dua. Dan ada materi buku yang diajarkan di SMP dipindah untuk diajarkan di SMA. Itu terjadi untuk pelajaran bahasa Indonesia dan matematika. Dia menyebut pihaknya melakukan revisi terhadap 377 buku dan dipastikan dapat selesai pada Februari 2016. Harapannya, buku-buku tersebut dapat digunakan pada tahun ajaran 2016/2017.  sebagaimana yang telah dilansir dari berita harian metrotv diatas, merupakan usaha untuk perbaikan isi kurikulum.
Perubahan kurikulum tidak berlaku dengan sendirinya, melainkan ada sebab yang mempengaruhinya.kurikulum berlaku sejajar dengan masanya. Pada dasarnya kurikulum bersifat dinamis karena setiap perubahan pastilah mengarah kearah perbaikan. Dengan deminkian, perlulah kita memahami model-model kurikulum yang ada di Indonesia sebagai dasar untuk melakukan peengembangan maupun mengetahui tingkat kepentingan pada setiap masa diberlakukan kurikulum. Makalah ini akan membahas tentang bagaimana sejarah kurikulum sejak kemerdekaan Indonesia hingga kurikulum 2013 yang sedang diselenggarakan saat ini.

B. Pembahasan

1. Sejarah Perkembangan Kurikulum Indonesia
Kurikulum di Indonesia telah berkembang sejak zaman kemerdekaan Indonesia. Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, pendidikan ditanah air terus berkembang, termasuk dalam perkembangan kurikulum. Kurikulum di Indonesia terbagi menjadi empat periode, yaitu periode sebelum kemerdekaan, periode orde lama, periode orde baru, periode reformasi Sekolah Dasar (SD), Sekolah menengah Pertama (SMP), dan sekolah Manengah Atas (SMA). 

a. Pada periode sebelum kemerdekaan
kurikulum disekolahan menganut pada kepentingan tertentu, misalnya ketika masa penjajahan Portugis, Negara Portugis mendirikan sekolahan diIndonesia dengan maksud menyebarkan agama Kristen, begitu juga penjajah inggris yang mendirikan sekolahan dengan maksud menyebarkan agama katolik. Berbeda dengan Inggris dan Portugis, negara Belanda mendirikan sekolah di Indonesia bertujuan agar anak didik  nantinya sanggup dipekerjakan pada pemerintahan dan gereja untuk keperluan tanam paksa.

Program kurikulum yang diberikan kolonial Belanda yaitu ilmu bumi, sejarah, ilmu hayat/menggambar, dan ilmu mengukur tanah dengan bahasa pengantar bahasa Melayu dan Belanda.  Intinya pada zaman penjajahan belanda kurikulum pendidikan diadakan untuk memenuhi misi penjajahan belanda pada masa itu.   

Ketika masa sistem pemerintahan belanda runtuh, maka bergantilah masa pemerintahan jepang. Berbeda dengan pemerintahan belanda yang memberikan pendidikan dengan tujuan penyebaran agama atauperlunya pegawai rendahan, maka jepang memberikan pendidikan yang tujuan utamanya pendidikan pada masa pendudukan Jepang adalah untuk memenangkan perang  . Sebut saja Sekolah Rakyat yaitu sekolah rendahan yang diberikan oleh pemerintahan jepang untuk Indonesia. Jenis pendidikan ini kurang memerhatikan isi, anak-anak harus mengikuti latihan militer di sekolah sehinggapelajaran olahraga sangat penting, dan menghilangkan semua pelajaran berbau Belanda dihilangkan.  Dengan demikian, kurikulum pada masa penjajahan jepang berlaku sampai dengan kemerdekaan Indonesia. Sejak saat itulah kurikulum pendidikan di Indonesia dimulai.

b. Periode setelah kemerdekaan Indonesia (orde lama)

Setelah kompleknya persoalan kemerdekaan pada tahun 1945. Terbentuklah kurikulum pada tahun 1947 yang disebut dengan Rencana Pembelajaran.  Kurikulum ini kurang lebih sudah digunakan oleh Belanda, yang menekankan pada pembentukan karakter manusia yang berdaulat dan sejajar dengan bangsa lain. Materi pelajaran dihubungkan dengan kejadian sehari-hari, perhatian terhadap kesenian, dan pendidikan jasmani. Mata pelajaran untuk tingkat Sekolah Rakyat ada 16, khusus di Jawa, Sunda, dan Madura diberikan bahasa daerah. Daftar pelajarannya adalah Bahasa Indonesia, Bahasa Daerah, Berhitung, Ilmu Alam, Ilmu Hayat, Ilmu Bumi, Sejarah, Menggambar, Menulis, Seni Suara, Pekerjaan Tangan, Pekerjaan Keputrian, Gerak Badan, Kebersihan dan Kesehatan, Didikan Budi Pekerti, dan Pendidikan Agama. Pada awalnya pelajaran agama diberikan mulai kelas IV, namun sejak 1951agama juga diajarkan sejak kelas I.  intinya kurikulum pada saat itu mengutamakan pendidikan watak dan perilaku sehingga mengurangi pendidikan yang cenderung pada aspek kognitif, karena pada saat itu kebutuhan kesadaran bernegara dan bermasyarakat lebih ditekankan. Sedangkan pada aspek kognitif setiap materi pelajaran yang diberikan dihubungkan dengan kejadian sehari-hari. 

Masih pada periode orde lama, pada tahun 1952 kurikulum mengalami perubahan yang disebut dengan Rencana pelajaran terurai.  Kurikulum ini sudah mengarah pada suatu sistem pendidikan nasional. Yang paling menonjol dan sekaligus ciri dari kurikulum 1952 ini bahwa setiap rencana pelajaran harus memperhatikan isi pelajaran yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Kurikulum 1952 merupakan penyempurna dari kurikulum 1952, dimana aspek yang disempurnakan yaitu mengurangi pendidikan pada aspek kognitif, dan memperkuat pendidikan watak (value dan attitude ). Kurikulum ini berlaku sejak tahun 1952 sampai 1964, yang kemudian mengalami perubahan kembali.

c. Periode prubahan kurikulum pada masa orde baru

Periode orde baru sebut saja periode presiden RI Soeharto. pada tahun 1964 kurikulum pendidikan mengalami perubahan kembali yang disebut dengan Rentjana Pendidikan 1964. Pada kurikulum masa ini membekali anak didik untuk terjun ke dunia kerja. Di penghujung era Presiden Soekarno, muncul Rencana Pendidikan 1964 atau Kurikulum 1964. Fokusnya pada pengembangan daya cipta, rasa, karsa, karya, dan moral (Pancawardhana). Mata pelajaran diklasifikasikan dalam lima kelompok bidang studi: moral, kecerdasan, emosional/artistik, keprigelan (keterampilan), dan jasmaniah. Pendidikan dasar lebih menekankan pada pengetahuan dan kegiatan fungsional praktis.  Pada kurikulum ini pemerintah mulai memikirkan bagaimana pendidikan mampu menjawab kebutuhan masyarakat dengan terjun di dunia kerja.

Setelah kurikulum 1964 berkembang maka ada pembaharuan pada kurikulum di tahun 1968 yang didalamnya bersifat politis.  Mengganti Rencana Pendidikan 1964 yang dicitrakan sebagai produk orde lama yang tujuannya pada pembentukan manusia pancasila sejati. Menurut Djauzak kurikulum 1968 sebagai kurikulum bulat, “hanya memuat mata pelajaran pokok-pokok saja” . Yaitu mata pelajaran yang dimuat didalamnya meliputi materi teoritis dan tidak menghubungkan dengan permasalahan faktual di lapangan.   
Usai kurikulum 1968 digantikan dengan kurikulum 1975 yakni, menekankan pada tujuan pendidikan yang lebih efektif dan efisien. Masa ini mulai dikenal istilah satuan pelajaran, yaitu rencana pelajaran setiap satuan bahasan. Setiap satuan pelajaran dirinci lagi meliputi petunjuk umum, petunjuk intruksional khusus, materi pelajaran, alat pelajaran, kegiatan belajar mengajar, dan evaluasi. Dalam Hosna dijelaskan bahwa kurikulum ini memiliki banyak kritikan karena guru sibuk untuk menulis rinci apa yang akan dicapai dari setiap kegiatan kepmbelajaran.  Jadi pada kurikulum ini kegiatan pengajaran telah ditentukan tujuan-tujuan yang harus dicapai oleh siswa melalui proses pembelajaran. Semua proses pembelajaran ditentukan oleh kebijakan sampai dengan output siswa sehingga selain bahan ajar tidak berkembang, guru dan siswa menjadi pasif, dan kita tahu bahwa setiap kemampuan murid itu berbeda, sehingga tidak bisa selalu mengacu pada pembuat kebijakan terkait dengan output  siswa.

Karena kurikulum 1975 berlangsung hingga 1983 telah dianggap sudah tidak lagi memenuhi kebutuhan masyarakat dan tuntutan IPTEK, maka muncullah kurikulum 1984. Kurikulum 1984 memperkenalkan istilah process skill approach. Kurikulum ini disebut juga sebagai kurikulum penyempurna 1975. Disini, siswa diposisikan sebagai subjek belajar, sehingga mulai dikenal juga Cara Belajar SiswaAktif (CBSA) atau Student Actif  Learning  (SAL). Kemudian, CBSA diujicobakan kepada beberapa sekolah dan memiliki hasil yang sangat bagus sehingga mendorong untuk diterapkannya CBSA secara nasional. Namun, ketika CBSA diberlakukan secara nasional ternyata tidak sesuai dengan harapan, kritikan mulai bermunculan mulai dari proses pembelajaran yang tidak kondusif hingga terdapat tempelan gambar sana sini, dan guru tidak lagi menggunakan metode ceramah. Setelah CBSA kurang dianggap efektif maka adanya perubahan kurikulum kembali yaitu kurikulum 1994 yang berusaha mengkombinasikan antara kurikulum 1975 dan 1984. 

2. Kurikulum 1994 yang disempurnakan 1999

Kurikulum 1994 dibuat sebagai penyempurna kurikulum 1984 dan dilaksanakan sesuai dengan UU no. 2 tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional. Berdasarkan keterangan diatas bahwa kurikulum 1994 merupakan keinginan mengkombinasikan kurikulum 1975 dan kurikulum 1984, namun pengkombinasian tersebut ternyata memunculkan banyak kritikan yakni, beban belajar siswa dinilai terlalu berat.  Dari muatan hingga lokal. Materi muatan lokal disesuaikan dengan kebutuhan daerah masing-masing, misalnya bahasa daerah kesenian, keterampilan daerah, dan lain-lain. 

Pada kurikulum 1994 inilah mulai pergantian sistem pembagian waktu pelajaran, yaitu dengan mengubah dari sistem semester ke sistem caturwulan. Dengan sistem caturwulan yang pembagiannya dalam satu tahun menjadi tiga tahap diharapkan dapat memberi kesempatan bagi siswa untuk dapat menerima materi pelajaran cukup banyak. Tujuan dari kurikulum ini menekankan pada konsep pemahaman (kognitif) dan keterampilan, keduanya harus dipahami secara bersamaan, sehingga memperberat beban siswa dalam belajar, tidak salah jika kurikulum ini menuai banyak kritik yang bermunculan. Selain itu menurut Bambang Tidak banyak hasil riset tentang kurikulum sekolah di Indonesia yang bisa dijadikan sebagai patokan.sebagai contoh mata pelajaran sains Pada pelajaran sains, Thair dan Treagust (1999) menunjukkan kecenderungan kurikulum sains negara berkembang seperti Indonesia (yaitu kurikulum 1984 dan 1994), karena ketiadaan pakar disain dan implementasi kurikulum maka yang terjadi adalah adopsi kurikulum sains dari negara maju (khususnya Amerika Serikat) tanpa banyak upaya untuk diterapkan pada kondisi lokal. Dampak langsungnya adalah kesulitan untuk memahami pelajaran sains karena dari segi isi dan struktur berasal dari budaya yang berbeda.  Yang sebenarnya kurikulum seperti yang disebutkan pernah diterapkan pada kurikulum periode orde lama. Dimana, pelajaran yang bersifat koonseptual harus berkesinambungan dengan kehidupan sehari-hari.

Setelah beberapa saat kurikulum ini berjalan dan merasa terdapat berbagai permasalahan, kurikulum 1994 membutuhkan suplemen untuk disempurnakan. Pada tahun 1999 kurikulum 1994 disempurnakan secara bertahap.  Kurikulum 1994 mengalami penyempurnaan sebagai respon terhadap perubahan struktural dalam pemerintahan dari sentralistik menjadi desentralistik sebagai konsekuensi logis dilaksanakannya UU No. 22 dan 25 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah. Dengan UU tersebut, secara langsung berpengaruh mulai dari perencanaa, pelaksanaan, dan evaluasi. 

Dalam perjalanan kurikulum 1994 yang telah disempurnakan pada akhirnya mengalami tantangan masa yaitu adanya perubahan-perubahan global pada persaingan pasar bebas dan tuntutan IPTEK yang semakin berkembang, maka perlunya diterapkan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK).

3. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK tahun 2004)

Sejalan dengan diberlakukan otonomi daerah dalam pengelolaan pendidikan, KBK merupakan usaha pemerintah dalam mencapai keunggulan masyarakat bangsa dalam penguasaan IPTEK sehingga mampu memenuhi tantangan persaingan pasar bebas. Untuk mencapai keunggulan tersebut, pada masa ini pemerintah mulai melakukan reorientasi dan revitalisasi terhadap lembaga organisasi yang ada, seperti forum MGMP, MKKS, seta menggalakkan program-programkompetisi keilmuan guru dan peserta didik.  

Pada kurikulum KBK, pelaksanaan pendidikan berorientasi pada kecakapan hidup (Life skill) dan pendidikan akademik, serta peningkatan mutu dan kesejahteraan tenaga mengajar.  Berbeda dengan kurikulum sebelumnya, menurut Bambang KBK terlebih dahulu diujicobakan pada beberapa sekolah dari berbagi tingkatan, dan juga diwacanakan kepada publik. Namun sayangnya hasil uji coba tidak terlalu menggembirakan dimana secara struktural dan operasional kebanyakan sekolah di Indonesia tidak akan siap melaksanakannya.  Ketidaksiapan tersebut terkait dengan kompetensi sumberdaya yang ada di masing-masing daerah tidak mampu menjangkau standar kompetensi yang telah ditetapkan.

Ketika KBK diterapkan kurikulum ini masih bersifat uji coba, maka Awal 2006 ujicoba KBK dihentikan, muncullah KTSP. Tinjauan  dari segi isi dan proses pencapaian target kompetensi pelajaran oleh siswa hingga  teknis evaluasi tidaklah banyak perbedaan dengan Kurikulum 2004.  Dalam kaitannya dengan pemberlakuan kurikulum kepala Balitbangdiknas mengungkapkan bahwa “Pemerintah Siap Membantu Sekolah Menyusun KTSP”.  Dengan acuan itu, setiap satuan pendidikan berwenang menyusun  kurikulum sendiri yang kerap disebut dengan KTSP pada tahun 2006.

4. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)

Berdasarkan UU Sisdiknas (UU 20/2003) yang mengamanatkan munculnya BNSP (badan standar nasional pendidikan) berdasar PP 19/2005 yang salah satu kewenangannya menetapkan standar isi dan standar kelulusan yang menjadi dasar untuk menentukan peraturan menteri tentang kurikulum. Melalui Permendiknas 22, 23 dan 24 tahun 2006, maka disahkanlah kurikulum baru yang dinamakan KTSP (kurikulum tingkat satuan pendidikan).

Dalam KTSP Kiprah guru lebih dominan, terutama dalam menjabarkan standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar, tidak saja dalam bentuk tertulis tapi juga dalam bentuk nyata di kelas.  Hal ini karena kurikulum telah disusun sesuai dengan satuan pendidikan , sedangkan pemerintahan pusat hanya member rambu-rambu yang perlu dirujuk untuk pengembangannya. 

Menurut  Bambang Suminto pada jurnal analisisnya Terdapat berbagai kritik mengenai janji berbagai “perubahan paradigma” dari pergantian kurikulum ini. Misal dalam mata pelajaran sains, yang benar terjadi hanya perubahan urutan pokok bahasan saja. Hal ini salah satunya tidak terlepas dari proses perancangan dan penyusunan kurikulum di Indonesia yang serba terpusat dan eksklusif, termasuk juga terjadi pada kurikulum terakhir yang biasa disebut KTSP, Proses desain kurikulum tidak pernah terbuka pada publik, yang selalu ada di dalamnya adalah pengesahannya oleh menteri terkait (Mendikbud atau Mendiknas, pada kasus kurikulum 1994 juga melibatkan Menag). Pada dokumen kurikulum misalnya, tidak pernah menampilkan data-data siapa yang mendisain dan apa sumbangannya; kapan dan dimana penyusunan dilakukan; serta pernah dicoba dimana serta uji publik-nya kalau pernah dilakukan.  Berbeda dengan KBK, meskipun belum di sahkan akan tetapi disosialisasikan dan diujicobakan kepada publik.

Sebagaimana beberapa sekolah yang masih menjalankan kurikulum KTSP saat ini, seorang guru dituntut untuk bertindak sebagai manusia yang professional dan kreatif dalam meyusun mengembangkan konsep pembelajaran sendiri, melaksanakan, dan mengevaluasi, sehingga kurangnya sumber daya manusia yang memiliki potensi untuk menjabarkan KTSP karena rendahnya kualitas guru serta sarana prasaranya sebagai pendukung aktifitas pembelajaran. Beberapa kritik yang muncul, dalam KTSP guru menjadi sibuk untuk merancang perangkat pembelajaran secara administratif, sehingga kurang fokus terhadap proses pembelajaran dikelas.tidak hanya itu KTSP meskipun didalamnya terdapat muatan pendidikan karakter, akan tetapi dinilai masih belum memberikan hasil yang signifikan pada aspek karakter karena dinilai cenderung pada penekanan penguasaan konsep yang tertera dalam SK dan KD.

Dengan demikian, berdasarkan tuntutan zaman, maka KTSP perlu adanya perubahan dan pengembangan dengan menekankan pada pembentukan sikap spiritual  dan sikap sosial yang dibangun untuk menghasilkan sumberdaya manusia produktif, kreatif, inovatif dan berkarakter, maka lahirlah yang disebut kurikulum 2013.  

5. Kurikulum 2013

Kurikulum 2013 bertujuan untuk menyeimbangkan antara sikap, keterampilan, dan pengetahuan untuk membangun soft skill dan hard skill peserta didik dengan meengamanatkan esensi pendekatan saintifik dalam pembelajaran.  Pendekatan saitifik ini proses kerja yang hendaknya memenuhi kriteria ilmiah sehingga penilaiannya pun menggunakan penilaian autentik.

Dalam kurikulum ini terjadi pengurangan peran dan fungsi guru, sekaligus juga mengurangi beban kerjanya, khususnya pekerjaan- pekerjaan yang bersifat administratif.  Guru tidak lagi harus menjabarkan kompetensi dasar dan indikator maupun silabus, melainkan guru cukup merancang rencana pembelajaran yang akan dilaksanakan berdasarkan  buku pedoman guru, dan buku siswa, karena standar nasional pendidikan telah dipersiapkan oleh pemerintahan pusat maupun pemerintahan daerah atau provinsi. Meskipun begitu, guru dituntut untuk melakuka berbagai inovatif sesuai dengan kondisi peserta didik dalam mengelola kelas secara optimal.

Namun, Setelah satu tahun berjalan secara bertahap, kurikulum yang baru dilaksanakan secara serentak di semua satuan pendidikan mulai tahun ajaran baru 2014/2015. Sejumlah kendala yang dapat ditemui dalam pelaksanaannya, antara lain terkait dengan anggaran, kesiapan pemerintah dalam menyiapkan perangkat kurikulum, kesiapan guru, sosialisasi, dan distribusi buku. Di antara semua daftar di atas, masalah utama yang sangat menghambat adalah kesiapan guru sebagai kunci keberhasilan implementasi kurikulum ini.   Berdasarkan risetnya dpat dilihat dari sebelum kurikulum ini diberlakukan terdapat pelatihan guru hanya 23,3 % yang telah mendapat pelatihan guru dari 1,3 juta guru yang ditargetkan pemerintah. Dengan presentasi tersebut masih ada guru yang telah mengikuti akan tetapi belum memahami dan mengimplementasikan kurikulum ini. Hal ini hendaknya harus diperhatikan, bahwasannya pelatihan tidak hanya sebagai formalitas saja, akan tetapi mempu diterapkan sebaik-baiknya disekolahan, sehingga anggaran yang dikeluarkan tidak menjadi sia-sia, oleh karena itu tidak hanya sampai pada pelatihan melainkan terdapat pendampingan, dan pembinaan klinis berkelanjutan.

Meskipun dianggap banyak kendala dalam pelaksanaan kurikulum ini, pelaksanaan kurikulum tetap harus dijalankan bersamaan dengan mengatasi berbagai kendala yang terjadi serta memperbaiki isi kurikulum yang perlu dibenahi.  Dengan demikian kurikulum 2013 mengalami revisi pada tahun 2017 dengan mengintegrasikan Pendidikan Penguatan Karakter didalam pembelajaran dan perancangan RPP  K13 revisik 13 tahun 2016 kemudian direvisi kembali k13 tahun 2017. Dalam perubahan yang terjadi tidak terlalu signifikan, namun perubahan di fokuskan untuk meningkatkan hubungan atau keterkaitan antara kompetensi inti (KI) dan kompetensi dasar (KD). 

C. Penutup

Perubahan kurikulum memang suatu keharusan, hal ini karena kurikulum meruapakan tuntutan zaman. Dalam perkjalanan sejarah sejak sebelum kemerdekaan maupun setelah kemerdekaan pada 1945, kurikulum pendidikan nasional telah mengalami perubahan, yaitu tahun 1947,1952,1964,1968,1975, 1984, 1994,2004, 2006, dan yang sekarang 2013. Perubahan tersebut memang konsekuensi logis dari terjadinya system politik, sosial, ekonomi, dan IPTEK dalam masyarakat berbangsa dan bernegara. Sebab, kurikulum sebagai perangkat rencana pendidikan perlu dikembangkan secara dinamis sesuai dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi di masyarakat. Semua kurikulum nasional dirancang berdasarkan landasan UUD 1945. Sedangkan perbedaanya hanya terletak pada penekanan pokok dari tujuan pendidikan serta pendekatan dalam merealisasikannya sesuai dengan tantangan dan perkembangan zaman.

Daftar Pustaka

Hosna, Rofi’atul & Hadi,Samsul.2015. Melejitkan Pembelajaran dengan Prinsip-Prinsip Belajar. Malang: Intelegensia Media.

Mulyasa,E.2006.  KBK konsep, karakteristik, dan Implementasi. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya offset.

Mulyasa, E.2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan,. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya offset.

Mulyasa, E. 2017. Guru dalam Implementasi kurikulum 2013. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.


uchu budi Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk orang banyak.

0 Response to "MEMAHAMI MODEL-MODEL MANAJEMEN KURIKULUM DI INDONESIA"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel