IMPLEMENTASI KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN PADA PESANTREN

IMPLEMENTASI KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN 
PADA PESANTREN

Oleh : Luqmanul Hakim 16711008

A. Pendahuluan 

Pendidikan dalam fungsi sederhana adalah menjadikan orang yang belum tau menjadi tau, orang yang belum bisa melakukan suatu kegiatan menjadi bisa., dan seseorang yang belum mengerti suatu makna menjadi mengerti, penjabaran lebih luas pendidikan merupakan suatu proses kegiatan membimbing, menuntun, seperti yang dikatakan Tafsir dalam bukumya, “pendidikan adalah bimbingan yang diberikan kepada seseorang agar ia berkembang secara maksimal” . Maka dari itu proses pendidikan atau bimbingan tersebut harus terarah dalam suatu susunan sistem kurikulum pembelajaran, sebagaimana dipaparkan oleh Ilyasin & Nurhayati tentang pentingnya peran kurikulum dalam pendidikan “tanpa adanya kurikulum suatu pendidikan akan kehilangan arah dan tujuan dari pendidikan tersebut yang sifatnya sangat fundamental” . 

Kurikulum dirancang untuk memenuhi kebutuhan sistem pendidikan yang direncanakan secara tertulis tentang kemampuan yang harus dipunyai yang berdasarkan standart, terdiri dari kumpulan materi yang akan diajarkan serta bentuk evaluasi belajar untuk mengetahui ketercapaian standart peserta didik. Komponen yang terkandung dalam konsep kurikulum menurut Hamalik yaitu, Standart Nasional Pendidikan, pengajaran, peserta didik, satuan pendidikan . Penjelasan diatas menyerbutkan kompenen yang terkandung dalam kurikulum merupakan seperangkat standart yang harus dicapai oleh peserta didik, melalui proses belajar dan pembelajaran yang dilaksanakan oleh setiap satuan pendidikan atau sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan yang dirumuskan dalam standart nasional pendidikan. 

Implementasi kurikulum pada satuan pendidikan atau suatu lembaga pendidikan haruslah melalui suatu perencanaan yang matang dan tentunya melalui proses fungsi manajemen, yaitu PDCA (plan, do, control, act) maka dari itu pelaksanaan kurikulum sesuai dengan prinsip efektif dan efisien. Penerapan kurikulum dan pembelajaran bukan hanya diterapkan pada lembaga formal sekolah pada umumnya, namun dapat pula dipraktekan atau diimplementasikan pada lingkungan pesantren dengan lingkungan yang khas dan kental ilmu agama. Dalam makalah ini pemakalah mencoba mmemaparkan implementasi kurikulum dan pembelajaran pada pesantren, yang difokuskan pada pembahasan: 

Konsep kurikulum dan pembelajaran
Pola pendidikan pesantren
Implementasi kurikulum dan pembelajaran

B. Pembahasan 

1. Konsep Kurikulum dan Pembelajaran 
Dinyatakan dalam Sistem Pendidikan Nasioanl, kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu, selain itu dalam panduan sisdiknas dijelaskan tentang pembelajaran yaitu proses interaksi peserta didik dengan pendidk dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. 

Sedangkan menurut pendapat tokoh, kurikulum dan pembelajarann adalah menurut Oemar Hamalik, kurikul adalah program pendidikan yang disediakan oleh lembaga pendidikan (sekolah) bagi siswa, berdasarkan hal tersebut siswa melakukan berbagai kegiatan belajar.  Sedang kan pembelajaran adalah kegiatan atau proses pembelajaran senantiasa di pengaruhi oleh beberpa faktor, pertama kompetensi dasar yang meliputi domain kognitif dan domain afektif, dan psikomotorik, yang ingin dicapai adalah hasil belajar, kedua, materi atau bahan ajar, ketiga sumber belajar, keempat media dan fasilitas belajar, kelima siswa yang belajar, dan yang keenam guru yang mengelola pembelajaran . 

Maka dari itu dapat disimpulkan kurikulum dan pembelajaran merupakan seperangkat komponen dasar dan fundamental dalam pelaksanaan pendidikan, yang menjadi acuan pelaksanaan pendidikan disuatu lembaga pendidikan, penyusunan kurikulum didasarkan pada asas tujuan pendidikan dan tujuan masing-masing lembaga pendidikan yang mengedepankan nilai-nilai yang di unggulkan baik di sekolah umum atau lembaga pendidikan pesantren. Proses pembelajaran yang dimaknai merupakan sebuah proses interaksi antara guru dengan peserta didik haruslah menekankan pada dasar kognitif, pengetahuan atau materi pembelajaran, afektif, tingkah laku atau sikap serta nilai-nilai yang terkandung didalamnya dan psikomotorik yang berorientasi pada kemampuan dan keterampilan peserta didik setelah menerima proses belajar. 

2. Pola Pendidikan di Pesantren 
Pola pendidikan di lembaga pesantren tentu terdapat perbedaan dengan sekolah pada umumnya, perbedaan yang mencolok terlihat pada metode pengajaran yang digunakan, bahkan pesantren satu dengan pesantren lain memiliki metode brherbeda dalam proses pembelajaran hal ini disebabkan oleh pengaruh kebijakan pimpinan pesantren. Menurut Nafi’ dkk metode pengajaran di pesantren adalah bandhongan atau wetonan dan sorogan.  Bandhongan dilakukan dengan cara kiai atau guru membacakan teks-teks kitab yang berbahasa Arab, menerjemahkannya ke dalam bahas lokal, dan sekaligus menjelaskan maksud yang terkandung dalam kitab tersebut, metode ini jarang terjadi diskusi antara kia dan para santrinya. selnjutnya metode sorogan, yaitu semacam metode CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) yang santri aktif memilih kitab yang akan di baca, kemudian membaca dan menerjemahkannya di hadapan kiai, sementara kiai mendengarkan dan mengoreksi. 

Kurikulum yang digunakan pada Pesantren berbeda dengan yang digunakan pada lembaga pendidikan formal, namun tetap menggunakan konsep pendidikan berjenjang atau sesuai tingkatan, bahkan ada pula yang berjenjang seperti ibtidaa'i (pemula), tsanaawy (lanjutan) dan 'aaly (tinggi) 
Pemakalah merujuk beberapa mata pelajaran yang pada umumnya diajarkan di Pesantren, penekanan masing-masing mata pelajaran dan sub mata pelajaran disesuaikan dengan misi dan kekhasan pesantren. Berikut rincian gambaran yang memuat 32 mata pelajaran dan sub mata pelajaran.

a. Al-Qur’an
Tahfidh (hafalan al-Qur’an), Tajwid (tat abaca al-Qur’an), Qira’at (ragam bacaan al-Qur’an), ‘Ulum al-Qur’an (teori al-Qu’an), Al-Adab fi Hamalat al-Qur’an (kode perilaku bagi pengamal)
b. Tafsir
Ilmu Tafsir (teori tafsir atau penjelasan al-Qur’an), Matan Tafsir (teks tafsir al-Qur’an)
c. Hadist
Matan Hadist (teks hadist), Muthasalah al-Hadist (teori hadist), Fiqh al Hadist (rincian penjelasan hadist)
d. ‘Aqidah
Tauhid (dasar-dasar aqidah Islam), Ilmu kalam (teologi Islam), Al-Fariq al-kalamiyah al islamiyah (aliran aliran teologi Islam)
e. Fiqh
Matan fiqh dan syarah-syarahnya, Fiqh Muqaran (fiqh perbandingan), Ushul Fiqh (teori fiqh), Qawaidul Fiqh (kaidah-kaidah fiqh), Tarikh al-Tasyari (sejarah penetapan syariat Islam)
f. Akhlaq
Ta’lim al-Muta’alim (kode perilaku penuntut ilmu), Tashawuf (esoterisme Islam)
g. Bahasa Arab
Nahwu (gramatika), Sharaf (morfologi), Muthala’ah (membaca da memahami), Muhadatsah (percakapan), Insya’ (mengarang), Mahfhudat (kata-kata mutiara), Balaghah (sastra), Mantiq (logika), Arudl (irama bahasa), Khath (kaligrafi), Al-Adab al-Muqaran (sastra pembanding)
h. Tarikh
Sirah Nabawiyah (sejarah Nabi Muhammad SAW), Tarikh Tsaqafi (sejarah peradaban).
Semua mata pelajaran itu disebar dalam struktur program pengajaran yang menyesuaikan jenjang madrasah atau pengajian pesantren. 

Terdapat pula pola pendidikan pesantren dengan menggunkan sistem Kulliyatul Mu‟allimin al-Islamiyah (KMI) ini diperkenalkan sebagai pengganti sistem Tarbiyatul Athfal dan Sullamul Muta‟allimin. Menurut Basyir dalam Agus Sriwanto , Perbedaan di antara sistem baru Kulliyatul Mu‟allimin alIslamiyah (KMI) ini dan sistem pendidikan tradisional yang diajar dipondok pesantren lain adalah sistem modern ini tidak menggunakan sistem pengajaran wetonan (massal) dan sorogan (individual). Para santri dididik dan diajarkan pada madrasah KMI yang berjenjang. 

Secara umum, isi kurikulum Kulliyatul Mu‟allimin al-Islamiyah (KMI) terdiri dari kelompok mata pelajaranSyar’i, Bahasa Arab, Bahasa Inggris, dan ilmu-ilmu umum. Berikut adalah pembagian setiap isi materi:

a. Kelompok mata pelajaran Syar’i yang terdiri dari:Al-Qur’an, Hadits,
Tajwid, Aqidah, Fiqh, Sejarah KebudayaanIslam (Tarikh Islam),
Mustholah al-Hadis, Tauhid/Ushuluddin, Tarikh Adab.
a. Kelompok mata pelajaranBahasa Arab terdiri dari :Tamrin Lughoh
(Bahasa Arab Dasar), Mahfudhot, Muthola’ah, Imla’, Insya, Nahwu,Shorof.
b. Kelompok mata pelajaran Bahasa Inggris terdiri dari :Bahasa Inggris,
Reading, Grammar, Dictation, Converesatition
c. Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi terdiri dari:
al-Jabar (Matematika), Bahasa Indonesia, IPA, IPS.

Seperti yang dipaparkan diatas terdapat 2 jenis konsep kurikulum pesantren yang disandarkan pada metode dan materi yang diajarkan, dari hal tersebut dapat dilihat tedapat perbedaan dari jenis pesantren dilihat dari segi materi pembelajaran yang disampaikan. Pemakalah merujuk pada karya ilmiah Mr. Nawawee Maeroh yang mengutip pada Ridwan Abawihda , yang menyebutkan terdapat dua jenis pola kurikulum pesantren, yaitu :

a. Pesantren Salaf (tradisional)
Kurikulum pesantren salaf yang statusnya sebagai lembbaga pendidikan non-formal hanya mempelajari kita-kitab klasih yang meliputi: Tauhid, Tafsir, Hadist, Usul Fiqih, Tawasawuf, Bahasa Arab (Nahwu, Shoraf, Balaghoh, dan Tajwid), Mantik, Akhlak. Pelaksanaan kurikulum pesantren ini berdasarkan kemudahan dan kompleksitas ilmu atau masalah yang dibahas dalam kitab, jadi ada tingkat awal, menengah dan lanjutan 

b. Pesantren Modern
Pesantren ini mengkombinasikan antara pesantren salafi dengan model pendididkan formal dengan mendirikan satuan pendidikan semacam SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA, bahkan sampai perguruan tinggi. Kurikulum yang digunakan adalah adaptasi dari kurikulum pesantren salaf yang disponsori oleh pemerintah (kementrian agama), sedangkan kurikulum khusus pesantren dialokasikan dalam muatan lokal atau diterapkan melalui kebijakan sendiri. 

3. Implementasi Kurikulum Pesantren 
Beberapa pendapat ahli tentang implementasi kurikum, Menurut Mulyasa, Implementasi kurikulum adalah operasionalisasi konsep kurikulum yang masih bersifat potensial (tertulis) menjadi aktual dalam bentuk pembelajaran . Menurut Rozali dalam Sriwanto, implementasi kurikulum merupakan suatu proses penerapan ide, konsep, kebijakan atau inovasi dalam suatu tindakan praktis sehingga memberikan dampak, baik berupa perubahan pengetahuan, keterampilan, maupun nilai dan sikap. Penerapan kurikulum merupakan tindakan nyata dari sikap ketidaktahuan sehingga mampu mengembangkan pendidikan dengan menerapkan konsep secara terencana.  

Sedangkan menurut Miller dalam Teguh menjelaskan implementasi kurikulum dan pembelajaran merupakan perwujudan kurikulum yang masih bersifat dokumen tertulis menjadi aktual dalam serangkaian aktivitas pembelajaran.  Senada dengan hal tersebut, Hasan dalam Sriwanto mengemukakan pendapat bahwa usaha merealisasikan suatu ide, konsep, dan nilai-nilai yang terkandung dalam kurikulum tertulis menjadi kenyataan, wujud nyata dari implementasi kurikulum adalah aktivitas belajar mengajar di kelas, dengan kata lain aktivitas belajar mengajar di kelas merupakan operasionalisasi dari kurikulum tertulis. 

Dari beberapa pengertian diatas terdapat empat pendapat tentang implementasi kurikulum, menurut Mulyasa implemntasi kurikulum merupakan wujud meng-operasionalkan kurikulum dalam bentuk nyata, menurut Rozali implementasi kurikulum adalam proses penerapan ide, konsep, yang memeiliki beberapa komponen, menurut Miller yang sama dengan pendapat Mulyasa adalah perwujudan dari kurikulum yang masih bersifat dokumen, hal itu diuangkapkan pula oleh Hasan yang mengartikan implemntasi kurikulum sebagai realisasi ide, konsep, dan nilai-nilai. 

Pemakalah mencoba untuk menyimpulkan dari beberapa pendapat diatas bahwa implentasi kurikulum adalah, mewujudkan atau merealisasikan ide, konsep, nila-nilai yang telah disusun dalam sistem kurilum yang masih berupa dokumen tertulis, yang diwujudkan dalam bentuk nyata pembelajaran di suatu lembaga pendidikan. Rancangan kurikulum dan impelemntasi kurikulum adalah  sebuah sistem yang membentuk sebuah garis lurus dalam arti implementasi mencerminkan rancangan, maka sangat penting sekali pemahaman guru sebagai   inti kurikulum untuk memahami perancangan kurikulum dengan baik dan benar serta didukung oleh ahli pendidikan dan pelaku pendidikan lain.

Pandangan praktisi pendidikan islam kurikulum dalam pandangan pendidikan islam dipandang bukan sebagai substansi pendidikan islam, namun lebih kepada suatu metode (manhaj) . Seperti yang dipaparkan oleh Ilyasin & Nanik, 

“Dalam pendidikan islam, kurikulum dikenal dengan istilah manhaj berarti jalan terang . makna tersirat dari jalan terang tersebut menurut al-Syaibany adalah jalan yang harus dilalui oleh para pendidik dan anak didik untuk mengembangkan keterampilan, pengetahuan dan sikap mereka, dengan makna kurikulum sebagai jalan terang berarti kurikulum merupakan sarana yang secara prosedural harus dijalankan guna mencapai tujuan pendidikan. [lihat pada Omar Muhammad al-Toumy al-Syaibany, Falsafah Pendidikan Islam, Penerjemah Hasan Langgulung (Jakarta: Bulan Bintang, 1984) 478]” 

Proses imlementasi kurikulum dan pembelajaran pesantren didasarkan pada komponen struktural dan pola matapelajaran yang sebelumnya pemakalah telah sedikit banyak menjelaskan sebelumnya. Begitu pula beberapa komponen implementasi kurikulum yang harus diperhatikan, Menurut Oemar Hamalik dalam Sriwanto , dalam mengimplementasikan kurikulum di sekolah, perlu memperhatikan sejumlah komponen yang saling berinteraksi.

a. Rumusan tujuan
Komponen ini membuat rumusan tujuan yang hendak dicapai atauyang diharapkan tercapai setelah pelaksanaan kurikulum, yang mengandung hasil-hasil yang hendak dicapai berkenan dengan aspek-aspek deduktif, administratif, sosial, dan aspek lainnya.
b. Identifikasi sumber-sumber
Perlu dilakukan survei untuk mengetahui sumber-sumber yang digunakan meliputi sumber keterbacaan, sumber audio, visual, manusia, masyarakat dan sumber di sekolah yang bersangkutan.
c. Peran pihak-pihak terkait
Komponen ini membuat tentang unsur-unsur ketenagaan yang bertindak sebagai pelaksanaan kurikulum, seperti tenaga kerja, supervisor, administrator serta siswa sendiri.
d. Pengembangan kemampuan profesional
Komponen ini membuat perangkat kemampuan yang dipersyaratkan bagi masing-masing unsur ketenagaan yang terkait dengan implementasi
kurikulum.
e. Penjadwalan kegiatan pelaksanaan
Komponen ini membuat uraian lengkap dan rinci tentang jadwal pelaksanaan kurikulum. Penjadwalan ini diperlukan sebagai acuan bagi para pelaksanaan untuk memudahkan pelaksanaan tugas dan partisipasinya dan bagi pengelola dapat dijadikan sebagai rujukan untuk pelaksanaan pengontrolan dan evaluasi.
f. Unsur penunjang
Komponen ini membuat uraian lengkap tentang semua unsur penunjang yang berfungsi menunjang pelaksanaan kurikulum. Unsur penunjang meliputi metode kerja, manusia, perlengkapan, biaya dan waktu yang tersedia. Semua itu harus direncanakan secara seksama.
g. Komunikasi
Komponen ini direncanakan sistem dan prosedur komunikasi yang dibutuhkan dalam pelaksanaan kurikulum. Jika komunikasi berlangsung efektif, maka penyelenggaraan pembelajaran akan berlangsung dengan lancar dan berhasil.
h. Monitoring
Komponen ini memuat secara rinci dan komperhensif tentang rencana kegiatan monitoring sejak awal dimulainya pelaksanaan kurikulum, pada waktu proses pelaksanaan dan tahap akhir pelaksanaan kurikulum, rencanakan secara cermat monitoring tersebut, pelaksanaan dan materi yang diperlukan.
i. Pencatatan dan pelaporan
Komponen ini memuat segala seuatu yang berkenaan dengan pencatatan data, informasi dan memuat laporan yang berkenaan dengan pelaksanaan kurikulum. Pencatatan berfungsi ganda yaitu membantu posisi monitoring dan membantu prosedur evaluasi pelaksanaan kurikulum
j. Evaluasi proses
Komponen ini memuat rencana evaluasi proses pelaksanaan kurikulum. Dalam rencana ini digambarkan hal-hal seperti tujuan, fungsi, metode evaluasi dan bentuk evaluasi.
k. Perbaikan dan redesain kurikulum
Dalam rencana ini perlu diestimasikan kemungkinan dilakukan upaya perbaikan atau redesain kurikulum yang hendak dilaksanakan. Perbaikan ini dilakukan atas dasar umpan balik yang bersumber dari hasil evaluasi proses.
Dalam komponen implementasi kurikulum seperti yang dijelaskan diatas bahwa pelaksanan kurikulum pada satuan pendidikan terkhusus pada pembahasan pada makalah ini pengelola pesantren mengaplikasihan komponen penerapan kurikulum diatas mulai perumusan tujuan hingga redesaind kurikulum jika perlu adanya perbaikan, karena setiap tahun kurikulum dipastikan ada sisi yang mengalami perubahan, dari sisi isi materi, metode serta bentuk evaluasinya.

C. Kesimpulan

Kurikulum dan pembelajaran  merupakan seperangkat komponen dasar dan fundamental dalam pelaksanaan pendidikan, yang menjadi acuan pelaksanaan pendidikan disuatu lembaga pendidikan, penyusunan kurikulum didasarkan pada asas tujuan pendidikan dan tujuan masing-masing lembaga pendidikan yang mengedepankan nilai-nilai. Terutama kurikulum dan pembelajaran pada lingkungan pesantren yang lebih menekankan nilai-nilai religiusitas dan penerapan akhlaqul karimah. 

Metode pengajaran di pesantren adalah bandhongan atau wetonan dan sorogan.  Bandhongan dilakukan dengan cara kiai atau guru membacakan teks-teks kitab yang berbahasa Arab, menerjemahkannya ke dalam bahas lokal, dan sekaligus menjelaskan maksud yang terkandung dalam kitab tersebut, metode ini jarang terjadi diskusi antara kia dan para santrinya. selnjutnya metode sorogan. Terdapat dua konsep pendidikan pesantren yaitu, Pertama, Pesantren Salaf (tradisional) Kurikulum hanya mempelajari kita-kitab klasih yang meliputi: Tauhid, Tafsir, Hadist, Usul Fiqih, Tawasawuf, Bahasa Arab (Nahwu, Shoraf, Balaghoh, dan Tajwid), Mantik, Akhlak. Kedua, Pesantren Modern, Pesantren ini mengkombinasikan antara pesantren salafi dengan model pendididkan formal dengan mendirikan satuan pendidikan semacam SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA, bahkan sampai perguruan tinggi. 

Implementasi kurikulum dan pembelajaran pada pesantren mengikuti pola penerapan dengan beberapa komponen kurikulum: yaitu; Rumusan tujuan, Identifikasi sumber-sumber, Peran pihak-pihak terkait, Pengembangan kemampuan profesional, Penjadwalan kegiatan pelaksanaan, Unsur penunjang, Komunikasi, Monitoring, Pencatatan dan pelaporan, Evaluasi proses, Perbaikan dan redesain kurikulum. 

DAFTAR PUSTAKA

Faqihuddin, M. 2017. Implementasi Kurikulum Muatan Lokal Berbasis Pesantren Di Mts Nu 32 Nasy’atul Hidayah Brangsong Kendal. Skripsi. (Diakses 09 Oktober). Semarang: FITK UIN Walisongo.
Hamalik, Oemar. 2007. Manajemen Pengembangan Kurikulum, Cet II. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Ilyasin, Muhammad & Nurhayati, 2012. NanikManajemen Pendidikan Islam. Yogyakarta: Aditya Media Publishing. 

Kumpulan Undang-undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 ayat 19 & 20. Bandung: Citra Umbara

M. Dian Nafi’ dkk, 2007. Praksisi Pembelajaran Pesantren, Yogyakarta: Lkis Pelangi Aksara.

Maeroh, Mr. Nawawee. 2017. Manajemen Kurikulum Pondok Pesantren Madinatunnajah Jombang Tangerang Selatan. Skripsi. (Diakses, 09 Oktober) Jakarta: FITK UIN Syarif Hidayatullah 

Mulyasa. 2007. Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan : Kemandirian dan Kepala Sekolah. Cet. 1, Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Shaleh, Abdul Rachman. 2004. Madrasah dan Pendidikan Anak Bangsa: Visi, Misi, dan Aksi, Jakarta: Raja Grafindo Persada

Sriwanto, Agus. 2017. Implementasi Kurikulum Terpadu Di Mts Pondok Pesantren Ibnul Qoyyim Putra Bantu.l Skripsi. (Diakses 09 Oktober)  Yogyakarta: Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta

Tafsir, Ahmad. 2013. Ilmu Pendidikan Islam.  Cet II Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Triwiyanto, Teguh. 2015. Manajemen Kurikulum dan Pembelajaran. Cet. 1 Jakarta: Sinar Grafika Offiset, 

uchu budi Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk orang banyak.

0 Response to "IMPLEMENTASI KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN PADA PESANTREN"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel