Kisah Wanita Mulia Suadah Binti Zam’ah


Suadah Binti Zam’ah adalah seorang istri Rasulullah saw. Ia dinikahi Rasulullah saw setelah wafatnya Khadijah. Meski namanya tidak terlalu dikenal dibanding istri Rasulullah saw lainnya, tetapi ia tetaplah seorang wanita yang memiliki kemuliaan dan kedudukan  yang tinggi di sisi Allah Swt. Rasulullah saw menikahinya bukan semata karena harta atau kecantikkannya, karena Saudah bukan wanita yang kaya dan cantik. Yang dilihat Rasulullah saw adalah semangat jihadnya di jalan Allah Swt, kecerdasannya, perjalanan hidupnya yang senantiasa baik, keimanan, serta keiklasannya kepada Allah Swt dan Rasul-Nya. 

Saudah adalah seorang wanita dengan perawakan tinggi besar, berbadan gemuk, tidak cantik, dan tidak kaya. Ia adalah seorang janda. Pertama kali ia menikah dengan anak pamannya, Syukron bin Amr dan menjadi istri yang setia dan tulus. Suaminya Syukran bin Amr termasuk pertama kali orang yang memeluk islam. 

Rasulullah saw memilih Saudah sebagai istrinya karena kadar keimanannya yang kokoh dan mampu menjadi pemimpin di rumah ayahnya yang masih musyrik Saudah mulai memasuki rumah tangga Rasulullah saw. Ia merawat Ummu Kaltsum dan Fatimah, putri Rasulullah saw seperti merawat anaknya sendiri. Saudah memiliki kelembutan dan kesabaran yang dapat menghibur hati Rasulullah saw, sekaligus memberi semangat. Sampai suatu saat Rasulullah saw menikah dengan Aisyah, putri Abu Bakar. Saudah dapat menerimanya dengan rela. Ia merasa cukup bangga menyandang gelar Ummul Mukminin, dapat menyayangi Rasulullah saw, dapat menyakini ajarannya, sehingga tidak terpengaruh dengan kepentingan duniawi.

Saudah mendampingi Rasulullah saw dalam perang khaibar. Ketika Rasulullah saw menikahi Syafiyyah binti Huyay bin Akhtab, suadah tetap rela dan menerima kehadiran Syafiyyah karena hatinya bersih dari sifat iri. 

Saudah menunaikan haji wada bersama istri-istri Rasulullah saw yang lainnya. Beberapa saat setelah haji wada, Rasulullah saw sakit keras. Rasulullah saw meminta persetujuan istri-istrinya untuk tinggal di rumah Aisyah. Selama Rasulullah saw sakit, ia tak pernah putus-putusnya menjenguk Rasulullah saw dan membatu Aisyah sampai Rasulullah saw wafat. 

Saudah wafat pada massa kekhalifahan Umar bin Khatab, sekitar tahun ke-19 H. Keistimewaan yang dimiliki Saudah binti zam’ah adalah kekuatan dan keteguhannya dalam menanggung derita, seperti pengusiran, penganiyaan, berbentuk kedzaliman lainnya, baik yang datang dari kaum Quraisy maupun keluarganya sendiri. Sifat menonjol lainnya adalah kesabaran dan keredaannya menerima takdir Allah swt. Ketika suaminya meninggal ia harus kembali ke  rumah orang tuannya yang masi musyrik hingga Rasulullah saw memilihnya menjadi istri. Saudah berhati bersih tak pernah merasa iri kepada istri Rasulullah saw lainnya. Selain itu saudah dikenal juga sebagai orang yang murah hatinya dan suka bersedekah

Menjalani kehidupan berumah tangga seperti mengarungi samudra. Airnya tidak selalu tenang, akan ada gelombang kecil, bahkan besar yang menghantam bahtera. Untuk itu, kesabaran sangat dibutuhkan karena ujian bisa datang dari arah mana saja, termasuk dari pasangan hidup kita. Bila kita mendahulukan Allah Swt di atas segalanya maka Allah Swt akan selalu menjaga kita dan Allah Swt tidak akan menyia-nyiakan amal saleh hamba-hamba-Nya. biru muda

itulah sekilas kisah suaidah binti zam'ah, yang sabar dalam mendampingi Rasulullah.

uchu budi Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk orang banyak.

2 Responses to "Kisah Wanita Mulia Suadah Binti Zam’ah"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel