Maryam binti Imran (Ibu Nabi Isa a.s)


Keluarga Maryam Al-Batul, sang wanita suci adalah keluarga Bani Israel yang sangat mulia, sangat suci dan paling utama. Karena ayahnya, Imran bin Matan adalah salah satu pemimpin Bani Israel, salah satu pembesar dan salah satu ulama mereka. Dialah yang selalu mengimami sholat mereka, dan nasabnya berhenti pada Sulaiman bin Dawud as. Sedangkan ibunya, Hannah binti Faqud, adalah salah seorang wanita ahli ibadah dan salah wanita terkemuka di kalangan Bani Israel. Dari kedua orang tua yang suci inilah terlahir sebuah nutfah kecil, yaitu Maryam Al ‘Adzra’ (Maryam Sang Perawan).

Maryam seorang gadis suci yang banyak beribadah dan ibunya menadzarkannya sebagai pelayan Baitul Maqdis saat ia masih berada di alam ketiadaan. Allah menerima nadzar sang ibu dan menumbuhkan Maryam dalam didikan yang baik, dengan sifat suci, bertakwa, dan zuhud. Ia terkenal dengan sifat yang disukai kaum wanita yaitu Al-Adzra’ (Sang Perawan). Allah telah memilihnya dari sekian banyak wanita di muka bumi untuk menjadi ibu bagi kalimat-Nya, hamba-Nya dan Rasul-Nya, Isa a.s Allah menolong Maryam dengan karomah dari–Nya yaitu berita gembira pada malaikat dengan pilihan Allah terhadap dirinya, berita gembira Jibril kepadanya dengan kehamilannya, dan para malaikat datang kepadanya sambil membawa makanan dari surga saat ia berada di mihrabnya.


BACA JUGA: Bilal bin Rabah, Sabar Dalam Mempertahankan Keimanan

Maryam binti Imran (Ibu Nabi Isa a.s)


Dari berbagai kehidupan Maryam Al-Adzra’ Al-Batul, beberapa keteladanan yang dapat diambil sebagai pelajaran dan nasehat. Antara lain :

A. Ketaatan dalam Beribadah


Ia adalah anak perempuan yang dinadzarkan oleh ibunya buat Allah, yang khusus melayani Baitul Maqdis dan merawat segala urusan Baitul Maqdis demi mendekatkan diri kepada Allah dan memperoleh pahala serta ridha dari-Nya. 

Akhirnya setelah ibunya mengantarkan Maryam ke Baitul Maqdis, dengan cara undiran, Zakariyyah  as adalah yang terpilih untuk mengasuh, merawat dan mendidik Maryam yang masih kecil yaitu di Baitul Maqdis. Beliau mengurusnya dengan baik Zakariyyah as membuatnya mihrab untuk Maryam kecil menetap, Mihrab yang dijadikannya sebagai ruang suci tempat Maryam terus-menerus menghamba kepada Allah Yang Maha Esa tempat Maryam menjalani  hari-harinya dengan puasa dan melewati malam harinya dengan berdo’a, sholat serta bertasbih. 

Zakariyyah as membuatkan mihrab untuk Maryam, karena ia ingin mendidik anak perempuan (Maryam) yang dipercayakan Allah kepadanya dengan pendidikan terbaik. Ia akan mengasuhnya seorang diri tanpa bantuan orang lain. Karena ia khawatir akan kerusakan dan kemungkaran masyarakat dapat mempengaruhi pertumbuhan anak ini. Maka, ia mengasingkannya dari keramaian dan mengkhususkan dirinya untuk melayaninya. Oleh karena itu, ia telah membangunkan sebuah kamar di Baitul Maqdis yang hanya bisa dicapai dengan menaiki tangga. (Maulana dan Ibrahim, 2009 : 391). Itulah yang dimaksud mihrab yang telah dibuat Zakariyyah as untuk Maryam kecil menetap.

Dan setelah Zakariyyah as berusia cukup renta, maka ia mengumpulkan kaumnya dan berkata “Wahai Bani Isa siapa diantara kalian yang akan memelihara Maryam sepeninggal ku?” (Abdul Aziz, 2004 : 257)

Kemudian, untuk kedua kalinya mereka mengundi, untuk menetapkan siapa yang berhak menjadi pengasuh Maryam. Dan hasilnya, Yusuf si tukang kayu (seorang hamba yang shalih dan masih merupakan sepupu Maryam) yang memenangkan undian itu. Yusuf pun menyambut pemeliharaan tersebut sebagai berkah. 

Dan seperti pengasuhan yang dilakukan oleh Zakariyyah, yaitu tak seorang pun diperbolehkan masuk ke Mihrab Maryam, selain Yusuf An-Najjar. Dan di Mihrab inilah Maryam meniti ke puncak kepatuhan, kekhusyu’an, ketundukan, ketakwaan, dan kesendirian bersama Allah Swt. Kesibukannya beribadah dan ketaatannya membuat Maryam tidak lagi memperhatikan masalah duniawi. Sehingga masyarakat Bani Israil mengenal Maryam sebagai orang yang suci dan terpuji. 

Maka inilah Maryam, yang tumbuh menjadi seorang wanita muia yang taat beribadah kepada Allah SWT. Hatinya dimakmurkan dengan takwa dan keshalihan. Ia tinggal di Baitul Maqdis, beribadah kepada Allah yang telah memberinya rizki dan melapangkan hidup. Ia telah memurnikan dirinya untuk mengabdi di Baitul Maqdis.


BACA JUGA: FATIMAH BINTI MUHAMMAD

B. Menjaga Kesucian Diri dan Memelihara Kemerdekaan


Ia adalah waniat yang dijauhkan dari kedustaan orang-orang yang ragu, dan dihindarkan dari lidah setiap tukang fitnah yang meragukan kesucian dan ke-iffah-annya. ia menjadi sebaik-baik wnaita di dunia dengan persaksian Rabb semesta alam.

Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu). 

Hingga suatu hari, Maryam sedang beriktikaf shalat dan beribadah kepada Allah sebagaimana biasa. Tiba-tiba jiwanya terguncang, dirasuki rasa takut yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Di hadapannya muncul malaikat yang menampakkan diri dalam rupa seorang lelaki sempurna. Ketika malaikat itu muncul, Maryam berusaha lari dan berlindung kepada Allah karena mengiranya orang jahat, durjana dan tecela. Sementara ia adalah wanita beriman, bertaqwa dan sangat menjaga kesucian diri. Tetapi beberapa saat kemudian ia dapat menguasai diri dan rasa takutnya beranjak lenyap. (Maulana dan Ibrahim, 2009 : 395), yaitu ketika Jibril berterus terang tentang tujuan kedatangannya. Tetapi kemudian, Maryam semakin terkejut tidak kepalang. Dengan dipenuhi rasa malu yang sangat, ia bertanya-tanya dalam dirinya, “Bagaimana mungkin ia mempunyai seorang putra, padahal ia adalah perawan yang selalu beribadah dan tidak pernah disentuh lelaki manapun, tidak lewat pernikahan ataupun perzinahan” 

Karena itu ia segera berkata :

Maryam berkata: "Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!"

Lalu Jibril langsung menjawabnya dengan jelas dan tegas, atas perasaan kaget dan herannya Maryam, karena ia akan dikaruniai anak, padahal ia tidak pernah bergaul dengan laki-laki dan tidak pernah melakukan tindakan-tindakan asusila. yakni dalam surat Maryam ayat 21 :

قَالَ كَذَٰلِكِ قَالَ رَبُّكِ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٞۖ وَلِنَجۡعَلَهُۥٓ ءَايَةٗ لِّلنَّاسِ وَرَحۡمَةٗ مِّنَّاۚ وَكَانَ أَمۡرٗا مَّقۡضِيّٗا  ٢ 

Jibril berkata "Demikianlah . Tuhanmu berfirman: "Hal itu adalah mudah bagi-Ku, dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami, dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan."  (Q.S Maryam ayat 21)

Dengan demikian Allah telah menampakkan harga diri dan kesucian Maryam yang ditemui oleh Malaikat dalam bentuknya sebagai orang laki-laki yang sempurna, kendati ketika itu sedang sendirian, akhirnya ia merasa ketakutan.  Dan hal semacam ini biasa terjadi pada perempuan suci yang iffahi, yaitu saat dihadapannya hadir seorang lelaki tak dikenal, apalagi ditempat yang tidak ada penolong baginya dan tidak ada tempat untuk berlindung. 

C. Buah dari Ketaqwaan dan Ibadahnya


Ketika Maryam berusia 13 tahun, dia pantas menerima kalimah Allah dan berhak menyambut tiupan ruh. Hal itu karena lamanya ibadah yang ia lakukan, serta banyaknya ruku’ dan sujudnya, juga keberhasilannya dalam mencapai derajat Ash-Shiddiqah. Ia selalu berpuasa dan menunaikan shalat malam. Ia berpuasa 2 hari dan berpuasa sehari. 

Setelah beberapa bulan dari kehamilannya, suatu hari, ia merasakan sakit hendak melahirkan seorang anak datang menyerangnya. Dan untuk menghindari semua tuduhan, Maryam mengasingkan diri dan pergi ke Baitul Lahm (Bethlehem). setibanya disana, ia menyandarkan tubuhnya pada sebatang pohon kurma kering. (Maulana dan Ibrahim, 2009 : 398)

Maka, di sanalah sang perawan suci itu merasakan sakitnya melahirkan. Di tengah padang yang luas, di bawah seberang pohon kurma yang kering, Maryam melahirkan seorang putra, Isa as. 

Dengan penuh rasa sedih dan haru ia menatap putranya, ia berangan-angan seandainya ia ditelan bumi dan meninggalkan dunia sebelum menjadi ibu tanpa pernikahan. Ia berkata lirih, “Aduhai, alangkah baiknya jika aku mati sebelum ini dan aku menjadi sesuatu yang berarti lagi dilupakan. 

Sesungguhnya ini hanyalah angan-angan dari Maryam, dan itu adalah sebuah angan-angan yang sangat wajar dan logis yang sebenarnya keluar dari setiap gadis mana saja yang suci, bersih, lagi mulia. Dan ini adalah sebuah bantahan terhadap diamnya para penulis injil yang telah diubah-ubah itu. Mereka menampakkan Maryam seakan-akan ia tertuduh dan tidak kuasa untuk membantah dan membela. Lalu mereka menjadikannya seakan-akan dia adalah seorang wanita yang gembira dengan kehamilannya dan tidak khawatir akan pencemaran nama baiknya. Maka, apakah para perawan (gadis) yang belum menikah akan bahagia dengan perkara besar ini, kecuali, seandainya ia adalah seorang perempuan yang tidak baik-baik. 

Lalu tiba-tiba ada suara dari tempat yang rendah, Allah membuatnya seperti itu agar hati Maryam menjadi tenang.  sebagaimana firman Allah, surat Maryam ayat 24-26 :

فَنَادَىٰهَا مِن تَحۡتِهَآ أَلَّا تَحۡزَنِي قَدۡ جَعَلَ رَبُّكِ تَحۡتَكِ سَرِيّٗا  ٢٤ وَهُزِّيٓ إِلَيۡكِ بِجِذۡعِ ٱلنَّخۡلَةِ تُسَٰقِطۡ عَلَيۡكِ رُطَبٗا جَنِيّٗا  ٢٥ فَكُلِي وَٱشۡرَبِي وَقَرِّي عَيۡنٗاۖ فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ ٱلۡبَشَرِ أَحَدٗا فَقُولِيٓ إِنِّي نَذَرۡتُ لِلرَّحۡمَٰنِ صَوۡمٗا فَلَنۡ أُكَلِّمَ ٱلۡيَوۡمَ إِنسِيّٗا  ٢٦ 


Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: "Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu.

Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.

Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: "Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini". 

Ayat di atas mengisyaratkan bahwa buah kurma (rubthab) merupakan makanan yang sangat baik bagi wanita yang sedang dalam masa nifas/melahirkan, karena ia mudah dicerna, lezat lagi mengandung kalori yang tinggi. Dan Allah mengilhami Maryam, agar jangan berbicara karena Allah bermaksud membungkam semua yang meragukan kesucian Maryam melalui ucapan bayi yang dilahirkannya. 

Dari sini terlihatlah, bahwasannya Allah telah memilihnya dari sekian banyak wanita di muka bumi untuk menjadi ibu bagi kalimat-Nya, hamba Nya dan Rasul-Nya, Isa as. Dikarenakan banyaknya ia ruku’, sujud dan beribadah. Dan Allah telah menampakkan karomah pada diri Maryam, dengan perintah Allah agar ia menggoyangkan pohon kurma yang sudah kering, pohon itu langsung hijau dan menghasilkan ruthab yang segar, maka berjatuhanlah buah-buah itu saat ia merasakan sakit, akibat melahirkan. Demikian pula dengan pencaran air sungai yang diminumi Maryam. 

Tidaklah semua ini dikaruniakan Allah kepadanya, melainkan karena ini semua adalah buah dari tekunnya ibadah, banyaknya ruku’ dan sujud serta ketaqwaannya kepada Allah, untuk selalu menaati perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya.

uchu budi Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk orang banyak.

0 Response to "Maryam binti Imran (Ibu Nabi Isa a.s)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel