Konsep Pendidikan dalam Perspektif Islam

Dalam literatur kependidikan Islam, istilah pendidikan biasanya mengandung pengertian taklim, tarbiyah, irsyad, tadris, ta’dib, tazkiah dan tilawah. Akan tetapi dalam bahasa Arab dijumpai tiga istilah yang serting digunanakan untuk mengartikan pendidikan Islam, yaitu ta’dib, ta’lim, dan tarbiyah.

Kata ta’dib berasal dari kata aduba ya’dubu, yang berarti melatih atau mendisiplinkan diri atau bisa juga berasal dari kata adaba-ya’dabu yang berarti menjamu atau memberi jamuan dengan cara sopan santun. Dan ada juga yang mengatakan ta’dib berasal dari kata addaba-yuaddibu-ta’diban, yang berarti mendisiplinkan atau menanamkan sopan santun. Jadi kata ta’dib dapat disimpukan sebagai upaya menjamu atau melayani atau menanamkan atau mempraktikan sopan santun (adab) kepada seorang agar bertingkah laku yang baik dan disiplin.

Seseorang menanamkan adab kepada orang lain berarti melatih dan memberi contoh cara berperilaku yang disiplin dan sopan. Dalam bahasa pendidikan hal tersebut berarti wilayah afektif dan psikomotorik, maksudnya seseorang diajak untuk berdisiplin (terampil) dan bertingkah laku positif. Dalam sebuah hadits, kata ta’dib dapat dilihat dengan arti demikian, ‘Hak orang tua kepada anaknya adalah memberti nama yang baik dan memberi contoh prilaku yang baik pula kepadanya.

Kata ta’lim berasal dari kata ‘ilm yang berarti menangkap hakikat sesuatu. Dalam setiap ‘ilm terkandung dimensi teoritis dan dimensi amaliah (muhaimin,2006).Ini mengandung makna bahwa aktivitas pendidikan berusaha mengajarkan ilmu pengetahuan baik dimensi teoritis maupun praktisnya, atau ilmu dan pengalamannya. Allah mengutus rasul-Nya antara lain agar beliau mengajarkan (ta’lim) kandungan al-kitab dan al-hikmah, yaitu kebijakan dan kemahiran melaksanakan hal yang mendatangkan manfaat dan menampik mudharat (muhaimin,2006).Ini mengandung makna bahwa aktivitas pendidikan berusaha mengajarkan kandung ilmu pengetahuan dan al-hikmah atau kebijakan dan kemahiran melaksanakan ilmu pengetahuan itu dalam kehidupannya yang bisa mendatangkan manfaat dan berusaha semaksimal mungkin untuk menjauhi mudharat. Dengan demikian, seorang guru dituntut untuk sekaligus melakukan “transfer ilmu (pengetahuan), internalisasi, serta amaliah (implementasi)

Sedangkan kata tarbiyah berarti pendidikan.demikian an-Nahlawi (dalam fatah yasin,2008),tarbiyah berasal dari kata raba’-yarbuw yang berarti tumbuh, tambah dan berkembang. Atau bisa pula dari kata rabiya-yarba’, yang berarti tumbuh menjadi besar atau dewasa. Dan bisa juga berasal dari kata rabba-yurabbiy-tarbiyyatan, yang artinya memperbaiki, mengatur, mengurus, memelihara atau mendidik. Dari beberapa istilah asal di atas dapat disimpulkan bahwa kata tarbiyah berarti upaya untuk memelihara, mengurus, mengatur dan memperbaiki sesuatu atau potensi atau fitrah manusia yang sudah ada sejak lahir agar tumbuh dan berkembang menjadi dewasa atau sempurna. Dalam al-Qur’an dapat dilihat pada surat      al-Isra’ ayat 24, yang artinya “wahai Tuhanku, kasihanilah mereka keduanya (orang tua) sebagaimana mereka berdua mendidik aku sejak kecil”.

Upaya menumbuh kembangkan potensi manusia tersebut, bisa dilakukan dengan cara menanamkan pengetahuan (aspek kognitif), mengurus dan memelihara dengan cara diberi contoh perilaku (aspek afektif) dan mengatur atau melatih dengan cara memberi keterampilan (aspek psikomotorik) agar manusia bisa bertambah dan berkembang menjadi sempurna dalam segala aspeknya.

Dari beberapa istilah di atas, yang sering populer digunkan untuk mengartikan pendidikan atau pendidikan Islam adalah kata tarbiyah atau tarbiyah Islamiyah. kendati  banyak para ahli pendidikan Islam yang berbeda pendapat mengenai kata yang lebih tepat untuk mengartikan istilah pendidikan Islam tersebut.

Syed Muhammad al-Naquib al-Attas (1994: 52), misalnya, berpendapat bahwa istilah yang tepat untuk mengartikan pendidikan atau pendidikan Islam adalah ta’dib dan bukan tarbiyah, karena tarbiyah terlalu luas dan      mencakup pula pendidikan untuk hewan, sedangkan ta’dib hanya berlaku untuk manusia. Selanjutnya, al-Attas mengartikan pendidikan Islam (ta’dib) sebagai upaya membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan kepada Tuhan,dengan cara berangsur-angsur ditanamkan ke dalam diri manusia. Pengertian ini di dasarkan sabda Nabi Saw sebagai berikut :
اربنى ربى فاحسن تأديبى
 “Tuhan telah mendidikku, sehingga menjadi baik pendidikanku” (Ramayulis, 2008 : 17)

Abdul Fatah Jalal dalam kitab Min Ushul al-Tarbiyah al-Islamiyah (dalam A. Fatah Yasin, 2008 : 22) berpendapat bahwa Islam ta’lim justru lebih tepat untuk mengartikan pendidikan Islam karena maknanya lebih universal, sedangkan tarbiyah hanya tepat untuk pengasuhan anak kecil. Lebih lanjut, Fattah Jalal menjelaskan bahwa ta’lim lebih luas dibandingkan tarbiyah, karena Rasulullah Saw ketika mengajarkan bacaan al-Qur’an kepada umat Islam tidak sekedar dapat membaca, melainkan membaca dengan perenungan yang bersifat pemahaman, tanggung jawab dan amanah.

Sementara Abdurrahman al-Nahlawi (dalam A. Fatah Yasin, 2008 : 22) merumuskan bahwa istilah yang tepat untuk mengartikan pendidikan Islam adalah tarbiyah. Tarbiyah, lanjut al-Nahlawi, maknanya mengandung empat unsur pokok, pertama, menjaga dan memelihara fitrah anak menjelang dewasa.kedua,mengembangkan seluruh potensi manusia. ketiga, membimbing dan mengarahkan seluruh fitrah manusia menuju kesempurnaan, keempat, dilaksanakan secara berangsur-angsur.

Karena adanya perbedaan pendapat di atas, hasil Konferensi Interenasional Pendidikan Islam se-Dunia pertama di Jeddah tahun 1977, belum berhasil membuat rumusan yang jelas mengenai istilah yang tepat untuk mengartikan pendidikan Islam, namun dalam rekomendasinya konferensi tersebut menyimpulkan bahwa untuk menjelaskan tentang pendidikan Islam boleh menggunakan kata ta’lim, ta’dib atau tarbiyah.

Berangkat dari pemahaman makna istilah yang digunakan dalam pendidikan Islam terlihat adanya perbedaan penafsiran, hingga memberi berbagai peluang bagi munculnya pengertian tentang pendidikan. Padahal perbedaan itu hanya disebabkan dari perbedaan sudut pandang dan bukan perbedaan prinsip. Sebab bila pemahaman tersebut masing-masing dikembalikan kepada asalnya, maka semuanya menyatu kepada sumber dan prinsip yang sama.

Baik al-Tarbiyah, al-Ta’lim maupun al-Ta’dib, merujuk kepada Allah. Tarbiyah yang ditengarai sebagai kata bentukan dari kata rabb atau rabba mengacu kepada Allah sebagai rabb al-alamin. Sedangkan ta’lim yang berasal dari kata ‘allama, juga merujuk kepada Allah sebagai Dzat Yang Maha Alim. Selanjutnya ta’dib seperti termuat pada pernyataan Rasul Saw “Addabany rabby faahsana ta’diby” memperjelas bahwa sumber utama pendidikan adalah Allah.

Dalam tinjauan terminologi pendidikan Islam, tidak lagi memperdebatkan kata ta’lim, ta’dib atau tarbiyah yang lebih penting adalah hakikat dari makna pendidikan Islam itu sendiri.

Pengertian pendidikan Islam menurut rumusan seminar Nasional tentang Pendidikan Islam se-Indonesia tahun 1960 adalah sebagai pengarahan dan bimbingan terhadap pertumbuhan ruhani dan jasmani manusia menurut ajaran Islam dengan hikmah mengarahkan, membelajarkan, melatih, mengasuh dan mengawasi berlakunya semua ajaran Islam (A. Fatah Yasin, 2008 : 24)

Hasil Konferensi Pendidikan Islam se-Dunia kedua tahun 1980 di Islamabad, Pakistan, merumuskan bahwa pendidikan Islam adalah suatu usaha untuk mengembangkan  manusia dalam semua aspeknya, baik aspek spiritual, intelektual, imajinasi, jasmaniah dan ilmiah baik secara individual maupun kolektif menuju kearah pencapaian kesempurnaan hidup sesuai dengan ajaran Islam. Marimba (dalam A. Fatah Yasin, 2008 : 24) mendefinisikan  pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani dan ruhani manusia berdasarkan hukum-hukum Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian manusia yang utama menurut ukuran Islam.

Oemar Muhammad al-Syaibani (dalam A. Fatah Yasin, 2008: 24) mengatakan bahwa pendidikan Islam merupakan usaha untuk mengubah tingkah laku individu dalam kehidupan pribadinya atau kehidupan kemasyarakatan dan kehidupan dalam alam sekitarnya melalui proses pendidikan dan perubahan itu dilandasi oleh nilai-nilai Islam. Al-Syaibani melihat pendidikan adalah proses perubahan tingkah laku yang terjadi pada diri individu, maupun masyarakat. Dengan demikian penddikan bukanlah aktivitas dengan proses yang sekali jadi (instan).


uchu budi Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk orang banyak.

0 Response to " Konsep Pendidikan dalam Perspektif Islam"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel