Fathimah binti Muhammad (putri Rasulullah SAW)


Dia adalah Fathimah, Putri Muhammad bin Abdullah bin Abdul Mutholib, Imam para nabi penutup para rasul. Sedangkan ibunya adalah Khadijah binti Khawalid bin Asad bin Abdul Uzza. Jadi Fathimah adalah wanita yang dilahirkan dari bapak paling mulia, ibu paling suci, dan kabilah paling terhormat, Quraisy. 

Fathimah lahir ketika Ka’bah sedang dibangun, lima tahun sebelum ayahnya diangkat sebagai rasul. Sejak kecil, Fathimah terlihat cantik dan menawan. Ketika beranjak dewasa, Fathimah adalah orang yang menyerupai Rasulullah dalam hal karakter, wajah, kefasihan bahasa serta berjalan dan berbicara ia berhijrah ke Madinah bersama saudarinya Ummu Kultsum, dan Ummu Mu’minin, Saudah binti Zamah orang yang mengantar Zaid bin Haritsah dan Abu Rofi’ saat itu usia Fathimah delapan belas tahun. 

Suatu hari sebagaimana biasa Rasulullah melakukan ibadah di masjidil haram, saat itu sekelompok orang Quraisy sedang berkumpul di sekitar Ka’bah, mereka memberi isyarat lalu mengejek Nabi, bahkan Abu Jahal mendorong agar seseorang dari mereka mengambil unta yang telah membusuk dan meletakkannya di atas punggung Nabi ketika beliau bersujud. Uqbah bin Abi Muith, seorang yang terkenal paling keras dinantara mereka, berangkat dan kembali dengan membawa usus itu beserta kotoran yang melekat padanya. Ia menunggu nabi bersujud kemudian meletakkan usus yang di bawanya tadi di atas pundak beliau. Mereka tertawa-tawa gembira menyaksikan penghinaan yang luar biasa itu.

Abdullah Ibnu Mas’ud menyaksikan semua perbuatan itu. Tetapi ia pun melakukan shalat, ia tidak berani membatalkan shalatnya untuk menghilangkan benda menjijikkan itu dari pundak Rasulullah.

Berita tentang penghinaan itu dengan cepat terdengar Khadijah, tetapi yang paling cepat berlari menuju ka’bah adalah Fathimah Az-Zahra’ yang saat itu baru berusia 10 tahun. Ia menyingkirkan kotoran dari punggung ayahnya, kemudian berbalik menghadap orang-orang kafir itu dengan kepala terangkat dan rasa marah jelas di wajahnya.

Fathimah adalah orang yang keindahan wajah dan kefasihan lisannya paling menyerupai Rasulullah. Dengan berani ia berdiri dan menantang pandangan mata mereka. Lalu mulailah kata-kata teguran yang keras dan tegas meluncur dengan lancar dari mulutnya. Mereka, orang-orang Kafir itu terdiam. Tak sepatah katapun terucap dari mulut mereka untuk menjawab teguran gadis cilik ini, dan tidak seorang pun yang beranjak dari tempatnya hingga Fathimah selesai dengan tegurannya. Setelah itu, Fathimah segera berlari kepada Khadijah yang kemudian menenangkannya. 

Rasulullah Saw menjulukinya dengan “Ummu Abiiha” (Ibu sang Ayah) karena Fathimah sering melayani dan merawat beliau sebagaimana Fathimah binti As’ad dulu melakukan kepada beliau. 

Fathimah juga semakin elok dengan wajah rupawan yang bersinar cerah, Rasulullah Saw mengatakan bahwa ia adalah Fathimah Az-Zahro’ Fathimah yang bersinar. Karena setiap kali Fathimah berdiri di mihrob menghadap Rabb Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi, cahayanya bersemburat kepada malaikat langit, seperti bersemburatnya cahaya bintang kepada seluruh penduduk bumi. Karena itulah ia dijuluki Az-Zahra’ .

Fathimah wafat yaitu, enam tahun setelah kewafatan Rasulullah, dalam usia dua puluh delapan tahun dan dimakamkan di pekuburan Baqi’, Madinah. 

Fathimah Az-Zahrah


Dari berbagai kisah kehidupan Fathimah Az-Zahrah, beberapa keteladanan yang dapat diambil sebagai pelajaran dan nasehat, antara lain :

A. Putri Yang Berbakti


Ia dilahirkan ketika orang-orang Quraisy memperbaharui pembangunan Ka’bah, yaitu 5 tahun sebelum ayahnya diangkat sebagai Nabi tepatnya pada 20 Jumadil Akhir. Sedangkan, menurut pendapat yang lain menyebutkan bahwa Fathimah lahir pada hari Jum’at, 20 Jumadil Akhir dengan tahun yang berbeda dari di atas yaitu 5 tahun setelah Kenabian. Namun, para sejarahwan mengatakan bahwa ia lahir 5 tahun sebelum kenabian. Kelahirannya digunakan oleh Nabi untuk membatalkan kejahatan Wa’dul Banat bagi kaum Quraisy, yaitu mengubur hidup bayi-bayi perempuan. 

Sejak kecil, ia banyak menyaksikan perkara menyedihkan seperti dikembalikannya kedua putri Rasulullah (Ruqayyah dan Ummu Kultsum) dari suami mereka Utaibah dan Utbah, keduanya adalah putra Abu Lahab. Kesedihannya itu semakin bertambah tatkala Rasulullah dan orang-orang mukmin diembargo oleh orang-orang Quraisy di Syi’bib Abi Thalib. Orang-orang Quraisy tidak menjual barang dagangannya kepada mereka dan tidak pula membeli barang dagangan dari mereka. Rasa lapar dan rasa sakit menimpa mereka dengan snagat dahsyatnya, sehingga mereka terpaksan memakan kulit, daun-daun, dan membiarkan usus mereka terluka. Fathimah juga ikut merasakan penderitaan itu selama 3 tahun dari masa pemboikotan. Belum lama setelah masa pemboikotan berkahir, selang 3 hari dari kematian Abu Thalib, ibunya (Khadijah) menghembuskan nafas terakhir.

Meski dalam kesedihan, ia tetaplah seorang anak yang berbakti, ketika ibundanya telah tiada. Ia melayani semua kebutuhan sang ayah, menentramkan jiwa dan menghilangkan kesedihan dan kegelisahan. Persis seperti apa yang dilakukan ibundanya dulu terhadap Rasulullah, sehingga Rasulullah memanggilnya dengan panggilan “Ummu Abiiha” (Ibu sang ayah). Dengan semua yang terjadi menumbuhkannya menjadi seorang perempuan yang penuh kesabaran, ketabahan dan keberanian.

B. Pernikahannya Dengan Mahar Sederhana


Fathimah menikah dengan Ali bin Abi Thalib pada bulan Ramadhan tahu ke-2 Hijriyah, dan ia diboyong oleh Ali pada bulan Dzulhijjah ditahun yang sama.

Dan sebelumnya, banyak dari para sahabat berlomba-lomba untuk melamarnya, yang pertama adalah Abu Bakar, kemudian Umar tapi Rasulullah menolak keduanya dengan tolakan yang mulia. Beliau menjawab dengan lemah lembut kepada mereka, “Saya masih menunggu takdir”.

Akhirnya, mereka menyuruh Ali bin Abi Thalib untuk meminang Fathimah, tapi Ali keberatan, karena ia sangat miskin dan tidak punya uang untuk maskawin. Ia terus didesak, kemudian ia mengabulkan permintaan mereka, ia datang kepada Rasulullah untuk melamar Fathimah.

Setelah berada di sisi Rasulullah Saw, Ali terdiam dan Nabi melihat ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh Ali. Diamnya Ali, bagi Rasulullah mewakili bicaranya. “Wahai putra Abu Thalib, apa yang engkau inginkan? Sejenak Ali terdiam, kemudian dengan penuh hikmat dan suara bergetar Ali berkata, “Wahai Rasulullah, aku hendak meminang Fathimah”. 

Nabi Saw menjawab “Ahlan wa marhaban”, tidak lebih dari itu, lalu Ali pamit dengan penuh kebingungan. Setelah Ali keluar dari rumah Rasulullah Saw, beliau segera memanggil Fathimah. Beliau memberitahukannya bahwa Ali baru saja datang untuk melamarnya. Rasul menceritakan bahwa Ali adalah orang yang sangat berilmu, sangat penyantun, dan termasuk yang pertama masuk Islam dari kalangan pemuda. Kemudian beliau bertanya kepada Fathimah tentang pendapat terhadap Ali. 

Lalu Fathimah diam tidak menjawab, Nabi menganggap diamnya Fathimah adalah tanda persetujuan atas pernikahan. Nabi pun menikahkan Ali dengan Fathimah, Ali menjual baju besinya kepada Utsman bin Affan dengan harga 480 dirham. Lalu ia menyerahkan uang itu sebagai maskawin untuk Fathimah. 

Rasulullah Saw  berdo’a untuk keduanya :

الّلهُمَّ بَارِكْ فِيْهِمَاوَبَارِكْ عَلَيْهِمَاوَبَارِكْ لَهُمَافِىنَسْلِهِمَا.

“Ya Allah ! Berikanlah apa yang ada pada mereka. Berikanlah berkah atas mereka, dan berkahi pula keturunan mereka”.

Demikian, Rasulullah adalah pemegang perwalian mutlak kaum laki-laki dan perempuan muslim, termasuk putri beliau. Akan tetapi, untuk Fathimah beliau tidak langsung menyatakan persetujuannya atas pernikahan itu tanpa persetujuan Fathimah.  itu karena, Fathimalah yang akan menjalani kehidupan rumah tangganya sendiri, dan Rasulullah yakin bahwa ia mampu mengambil langkah atau keputusan sendiri. Sedangkan tujuan Nabi tentang mahar Fathimah yang sangat sederhana adalah untuk mendidik para gadis-gadis muslimah lainnya agar tidak menahan diri dari pernikahan hanya karena mahar yang sederhana. 

C. Tugasnya sebagai Istri dan Kehidupan Rumah Tangganya yang Sederhana


Fathimah hidup dirumah Ali bin Abi Thalib dalam suasana yang sensitif dan sangat mengkhawatirkan, yaitu ketika pasukan Islam senantiasa berada dalam keadaan siaga dan terlibat dalam peperangan, dimana suaminya ikut pada sebagian besar darinya.

Ia pun sangat mengerti tentang tanggung jawabnya yang berat dan peranan serta pengaruhnya terhadap suaminya, apalagi ketika berada dalam peperangan. 

Dan ia senantiasa mengirim hatinya  untuk menjaga Ali dari serangan para musuh, tatkala Ali tidak hadir bersamanya. Kemudian kehidupan mereka semakin lengkap, ketika terlahir dari jalinan kasih mereka dua cucu kecintaan Rasulullah Saw yaitu Hasan dan Husein. 

Sebagai seorang istri, ia  selalu berusaha untuk memenuhi hak-hak suaminya. padahal, kehidupannya sangatlah melarat dan ia harus bekerja keras. Ia terus berada dalam kondisi seperti ini tanpa ada sesuatupun yang mengganggunya kecuali sebuah riwayat yang mengatakan bahwa Ali hendak menikah lagi dengan Putri Hisyam bin Mughirah (Abu Jahal). Maka datanglah Rasulullah untuk tidak memberinya izin melakukanya.  sedangkan dalam sunan At-Tirmidzi pada bab keutamaan Fathimah, ada yang meriwayatkan sebagia berikut :

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ, اَخْبَرَنَاالَّليْثُ, عَنِ ابْنِ اَبِى مُلَيْكَةَ, عَنِ المِسْوَرَيْنِ نَحْرَمَوَ قَالَ : سَمِعْتُ النبي صَلَّىالله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ وَهُوَ عَلىَ المِنْبَرِ :,, اَنَّ بَنِى هِشَامِ بْنِ المُغِيْرَةِ اِسْتَأذَ نُوْنِى فِى اَنْ يُنْكِحُوْاابَنَتَهُمْ عَلِىَّ بْنَ اَبِىْ طَالِبٍ فَلاَآذَنُ ثُمَّ لآاَذَنُ ثُمَّ لآاَذَنُ, اِلاَّ اَنْ يُرِيْدَ اْبْنُ ابىِ طَالِبٍٍ اَنْ يُطَلِّقَ ابْتَنِى وَيَنْكِحَ ابْنَتَهُمْ, وَاِنَّهَا بِضْعَةٌ مِنِّى, يَرِيْبُنِىْ مَارَابَهَا, وَيُؤْذِيْنِى مَاآذَاهَا.

 “Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda di atas mimbar :”Sesungguhnya keturuan Hisyam bin Al-Mughirah minta izin kepadaku agar mereka boleh mengawinkan anak perempuan mereka kepada Ali bin Abi Thalib lalu aku tidak memberi ijin kecuali kalau Ali bin Abi Thalib berkehendak menceraikan anak perempuanku dan mengawini anak perempuan mereka, karena dia (Fathimah) adalah sebagian dariku, menyusahkanku apa yang menyusahkan dia dan menyakiti aku apa yang menyakiti dia”.

Akhirnya Ali berpaling dari keinginannya semula. Dan berjanji tidak akan menyakiti Fathimah lagi. 

Dan berikut ini adalah gambaran kehidupan rumah tangga Fathimah yang ia lalui setiap hari, yaitu, setiap hari ia selalu menarik gilingan hingga membekas di tangannya, dan senantiasa memanggul bejana air hingga membekas di lehernya, dan senantiasa menyapu rumah hingga berdebu bajunya. juga sebagai seorang ibu, ia sangat memperhatikan kedua anak-anaknya dengan penuh kasih sayang. Ia tetap mengurus dan merawat segala keperluan mereka tanpa mengurangi kewajibannya sebagai seorang istri. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bila ia meninggalkan kenangan yang paling indah di dalam hati semua orang. Dunia akan selalu mengingat Fathimah. Karena, meski ia hidup dalam kemiskinan, ia tetap selalu bersedekah. Dia tidak sanggup untuk  merasa kenyang sendiri apabila ada orang lain yang kelaparan. Dan ia tidak rela hidup senang dikala orang lain menderita. Bahkan ia tidak pernah membiarkan pengemis melangkah dari pintu rumahnya. 

Berangkat dari rumah Islam yang mulia dan paling sederhana inilah, ia tahu bagaimana seharusnya mendidik anak-anaknya, seperti Hasan, sehingga menjadi seseorang yang teguh dalam posisi apapun, terutama di saat posisi yang sangat sulit. Dan mendidik anak seperti, Husein, sehingga menjadi seseorang yang tumbuh dengan keberanian, yang rela mengorbankan dirinya, keluarganya dan sahabat-sahabatnya demi menegakkan agama Islam dan mencegah kedzaliman. Serta ia mendidik putri-putrinya seperti Zainab dan Ummu Kultsum, mengajarkan kepada mereka berdua pelajaran-pelajaran tentang pengorbanan dan keteguhan di hadapan orang-orang yang dzalim, sehingga mereka tidak takut dan tidak tunduk kepada orang-orang yang dzalim itu, serta berani untuk mengatakan hal yang benar. 

Maka, itulah Fathimah, baginya rumah adalah perguruan tinggi yang untuk mengajarkan pelajaran-pelajaran tentang kehidupan. Oleh karena itu, jangan merasa pesimis terlahir sebagai seorang wanita. Karena wanita adalah makhluk yang di khususkan Allah Swt sebagai salah satu unsur penegak kehidupan rumah tangga, penyebar kasih sayang, dan penumbuh ketenangan, kebahagiaan, kesejukan, dan kesejahteraan. Itulah mengapa di zaman ini, banyak ungkapan-ungkapan yang melukiskan pengaruh wanita bagi suksesnya seorang suami dan anak-anaknya dalam kehidupan mereka. Akan tetapi wanita tidak akan dapat merealisasikan kesuksesan itu kecuali jika dia cerdas, berkepribadian kuat, dan berjiwa suci serta bermoral tinggi. 

D. Kesempurnaan Iman dan Ibadahnya


Fathimah Az-Zahrah, tumbuh di rumah wahyu yang memberinya kesempurnaan meraih derajat tertinggi kesempurnaan dan kecemerlangan. Nabi Saw mengajarinya pengetahuan ilahiah dan menghadiahinya kecerdasan khusus, sehingga ia menyadari makna sebenarnya tentang keimanan, ketaatan dan kebenaran Islam.

Pengasuhan Fathimah dimulai oleh Rasulullah dibarengi oleh kemampuan Fathimah dalam menghayati kebenaran-kebenaran ilahiah serta kecerdasan dan kesiapan keagamaannya untuk mendaki jenjang tertinggi tentang kesempurnaan. 

Rasulullah Saw mengatakan “Sesungguhnya Allah telah memenuhi putrinya Fathimah, hatinya, anggota-anggota badannya, sampai tabiatnya yaitu dengan iman, sehingga ia selalu taat kepada Allah. 

Dan Aisyah binti Abi Bakar mengatakan, bahwa Rasulullah bersabda “Ia (Fathimah) adalah putriku yang paling baik, karena ia diuji kematianku” , yaitu, setelah Rasulullah wafat itu, Fathimah selalu tampak bersedih. Tetapi ia tidak pernah berbuat sesuatupun yang menyalahi syari’at atau merusak keimanan. Padahal musibah itu sangat pedih dirasakannya. Maka kisah ini mengandung pelajaran suci yang patut direnungkan oleh setiap wanita yang beriman, yaitu saat tertimpa malapetaka, atau sesuatu yang tidak disukainya. Mestinya ia menghias diri dengan kesabaran, menerima apa adanya takdir dan qadha Allah, berpasrah  kepada kehendak-Nya, dan tidak mengerjakan kecuali sesuatu yang membuat Allah ridha kepadanya. 

Sungguh, ia merasakan cobaan yang sangat berat, lebih dari cobaan yang dihadapi putra-putri Rasulullah yang lain. Fathimah merasakan sakit perihnya ditinggal ayahanda tercinta, sementara saudara-saudaranya yang lain. (Ruqayyah, Zainab, Ummu Kultsum) tidak merasakan hal serupa, karena mereka wafat saat Rasulullah masih hidup. 

Keutamaan dan kesempurnaan Fathimah yang lain adalah ia tidak pernah haid. Sesudah binti Masrah (bidan yang selalu menangani Fathimah waktu melahirkan) berkata :” Fathimah binti Rasulullah Saw langsung suci sesaat setelah melahirkan, sehingga ia tidak pernah luput mengerjakan shalat. Dan karena itu, ia dinamai Az-Zahra” 

Karena itu pula, Rasulullah Saw mengatakan, bahwa ia (Fathimah) adalah Fathimah “Az-Zahra’ “ , Fahimah yang bersinar. Ibnu Abbas meriwayatkan dari Rasulullah, “Sesungguhnya putriku Fathimah adalah penghulu kaum perempuan di awal hingga akhir zaman. Ia bagian dariku dan cahaya mataku, ia bunga hatiku, dan ia adalah jiwaku. Fathimah adalah seorang bidadari berwujud manusia, yang kapan pun mendirikan shalat di hadapan Tuhan Nya, sinarnya menerangi langit bagi para malaikat, seperti bintang-bintang menyinari manusia di bumi”.

uchu budi Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk orang banyak.

0 Response to "Fathimah binti Muhammad (putri Rasulullah SAW)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel