Bilal bin Rabah, Sabar Dalam Mempertahankan Keimanan

Bilal bin Rabah, Sabar Dalam Mempertahankan Keimanan

Bilal bin Rabah, adalah seorang habsy. Kulitnya hitam. Dia lahir dari seorang budak Bani Jumah di Mekah karena ibunya juga seorang budak. Bilal mulai mengetahui tentang Rasulullah saw ketika tokoh-tokoh kafir, temasuk Umayah, tuannya, mulai membicarakan kehadiran Rasulullah saw betapa mereka memuji peribadi Rasulullah saw sekaligus membencinya.

Pada suatu kesempatan, Bilal menemui Rasulullah saw dan menyatakan kesilamannya. Tak urung, sang tuan pun menjadi gusar. Ia segera mengambil tindakan agar Bilal melepaskan keislamannya.

Bilal pun mulai disiksa karena tidak mau menuruti kemauan tuannya. Tanpa selembar benang di badannya, Bilal dibaringkan di atas bara agar mau menyembah berhala. Namun, Bilal menolak. Di tengah teriknya matahari gurun dan pasir yang panas, Bilal dibaringkan lalu ditindih dengan batu yang amat besar. Sore harinya, batunya disingkirkan. Sebagai gantinya, bilal diikat di tiang kayu. Mereka menyuruh anak-anak kecil melemparinya dengan batu. Hebatnya, sepanjang penyiksaan itu, Bilal tak berhenti mengucap kata, “Ahad...Ahad...Ahad” (satu atau esa).

Siksaan kejam dan biadab itu dilakukan setiap hari sehingga beberapa algojo merasa kasihan kepadanya. Mereka membujuk Bilal agar mau memuji tuhan-tuhan mereka agar orang-orang Quraisy tidak mencibir (menghina) ketidak berdayaan mereka menghadapi budak sendiri. Mereka berkata, “ayo, katakanlah seperti yang kami ucapkan.” Bilal pun menolaknya dan berkata, “bibirku tak mampu mengucapkannya.”

Di malam hari mereka memberi tawaran kepada Bilal. Orang Quraisy berkata, “besok, kamu harus mengatakan yang baik-baik terhadap tuhan-tuhan kami. Katakanlah, tuhanku adalah Lata dan Uzza. Kami pun akan melepaskanmu. Kami telah menyiksamu, tetapi sepertinya kamilah yang tersiksa” Bilal dan menggelengkan kepala dan menyebut, “Ahad...Ahad...Ahad.”
Saat siang menjelang, Bilal kembali dibawa ke padang pasir. Dia menghadapi semua siksaan itu dengan sabar, tabah, dan teguh tak tergoyahkan. Sampai suatu saat, seorang sahabat Rasulullah saw bernama Abu Bakar mendatangi mereka. Ia berkata, “Apakah kalian akan membunuh seseorang karena ia mengatakan Tuhanku adalah Allah.” Abu Bakar berkata lagi, “Berilah harga yang lebih mahal dari harganya dan biarlah dia merdeka.”

Orang-orang Quraisy pun menerima tawaran Abu Bakar. Sejak saat itulah, Bilal sudah bukan lagi seorang budak. Ia sama seperti oang-orang merdeka lainnya. Bilal pun dikenal sebagai muadzim pertama dalam sejarah islam, yaitu orang yang pertama kali mengumandangkan azan. Bilal adalah muadzim Rasulullh saw. Setelah Rasulullah saw wafat ia tidak mau lagi mengumandangkan azan. Dan lebih memilih bergabung dengan pasukan perang hingga syahid karena Bilal tak kuasa menahan tangis begitu mengumandangkan “Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah”. Kenangannya bersama Rasulullah saw akan bangkit kembali.

Bilal mengumandangkan azan terakhir kali pada masa khalifah Umar. Ketika khalifah berkunjung ke Syam. Saat itu Bilal memang menetap di sana, kaum muslimin meminta Bilal mengumandangkan azan, walaupun hanya sekali. Bilal pun naik ke menara dan mulai mengumandangkan azan. Para sahabat yang pernah hidup bersama Rasulullah saw menangis tersedu-sedu ketika mendengar suara azannya Bilal. Bilal wafat di Syam di medan jihad seperti yang ia cita-citakan.

Sumber:
Ummu Asma, Dahsyatnya Kekuatan Sabar. 2010

uchu budi Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk orang banyak.

2 Responses to "Bilal bin Rabah, Sabar Dalam Mempertahankan Keimanan"

  1. I found so many interesting stuff in your blog especially its discussion. From the tons of comments on your articles, I guess I am not the only one having all the enjoyment here! keep up the good work... dewa poker

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel