Asiyah binti Muzahim (Istri Fir’aun) Wanita Penghuni Surga


Dia adalah Asiyah binti Muzahim bin Royyan bin Walid. Muzahim adalah Raja Mesir di zaman Nabi Yusuf a.s. Asiyah tumbuh dalam naungan keluarga yang penuh dengan kesucian dan iffah. Ia adalah wanita yang paling mulia dengan cantik pada zamannya. Ia dipanggil dengan sebutan “Jamilatul Jamilah”, wanita yang paling cantik dari wanita yang cantik lainnya. 

Asiyah adalah simbol atau figur teladan bagi wanita beriman yang tetap mempertahankan keimanannya kepada Allah, meskipun hidup bersama suami yang tidak beriman kepada Allah, Fir’aun laknatullah.

Dan Asiyah adalah satu-satunya wanita yang berada di puncak sebuah kerajaan  besar dan berkuasa. Yang mayoritas, wanita biasanya lebih mudah terpengaruh dan terintimidasi oleh penetrasi norma-norma masyarakat sekelilingnya. Tetapi Asiyah lebih memilih sendirian di tengah-tengah tekanan masyarakat, kekuasaan raja dan kehidupan sosial. Ia menengadah ke langit mengusung keimanannya. (Muhammad Ali Al-Allawi, 2006:45)

Dalam Jurnal Ibrohim Hosen, mengungkapkan “Lihatlah istri Fir’aun, sekalipun ia hidup di bawah genggaman raja kafir yang sangat berkuasa, namun ia telah berhasil memerankan dirinya sebagai pejuang kebenaran yang berguna bagi masyarakatnya.”

Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, “Fir’aun memukulkan kedua tangan dan kaki Asiyah dalam keadaan terikat. Maka ketika Fir’aun dan pengikutnya meninggalkan Asiyah, malaikat menaunginya lalu ia berkata, “Ya Rabb, bangunkan sebuah rumah bagiku di sisi-Mu dalam surga. Maka Allah perlihatkan rumah yang telah disediakan untuknya di surga sebelum dia meninggal.”

Asiyah binti Muzahim (Istri Fir’aun)


Dari berbagai kisah kehidupan Asiyah, beberapa keteladanan yang dapat diambil sebagai pelajaran dan nasihat, antara lain :

A. Melindungi, mengasuh dan Mendidik Musa as


Musa dilahirkan pada masa kekuasaan raja Mesir ke-4 Fir’aun. Yang menjalankan kekuasaannya secara sewenang-wenang dan berlaku sombong. Ia menindas dan menjajah sekelompok rakyat yang tidak disukainya, yaitu Bani Israil. Ia telah memerintahkan pembunuhan terhadap bayi laki-laki dari Bani Israil, karena ia takut akan kehilangan kekuasannya. 

Akan tetapi, Allah Swt telah mempersiapkan Asiyah Binti Muzahim, istri Fir’aun. Sebagai pelindung bagi Musa kecil dari gangguan Fir’aun dan para pengikutnya. Ia telah membela Musa tidak dengan pedang, pangkat, dan harta tetapi dengan hati dan jiwa yang simpatik dan penuh dengan kasih sayang. Perempuan ini adalah perempuan suci dan taat ia telah tumbuh di tangan keluarga yang menjaga ke iffahan.

Perlindungan dan pembelaannya, terbukti di saat Musa kecil ditemukaan dalam kotak yang hanyut di sungai Nil di dekat istana Fir’aun. Lalu para budak yang menemukannya, mengantarkan kehadapan Asiyah, istri Fir’aun. Dan seketika, setelah ia membuka kotak tersebut, Allah telah menaruh perasaan cinta kepada Musa di dalam hati Asiyah. 

Dan ketika Fir’aun mengetahui berita tentang bayi itu, lalu hendak membunuhnya. Asiyah menghalanginya, dan mengharap agar bayi tersebut tetap dibiarkan hidup agar menjadi penyejuk hati bagi mereka berdua. Sebab selama ini, ia tidak bisa melahirkan anak. Awalnya, Fir’aun tidak setuju tetapi, akhirnya ia pun menyetujui keinginan permaisurinya dan membiarkannya merawat Musa kecil.

Kemudian Asiyah pun merawat bayi Musa as, ia mendidiknya dengan baik, melindungi dengan kasih sayang, dan menaminya Musa, yang berarti air dan pohon, sebab mereka menemukannya dari مُوْ(air) dan سَا(pohon). Kemudian 2 kata tersebut, diubah dalam bahasa Ibrani menjadi Musa ( موسى). Ia ingin memberikan yang terbaik bagi anak angkatnya itu, tetapi karena ia tidak memiliki anak, jadi ia tidak bisa menyusui bayi itu (Musa). Lalu ia mendatangkan para wanita penyusu terbaik bagi Musa. Tetapi Allah Swt memberi ilham kepada Musa kecil untuk menolak semua wanita yang ingin menyusui dirinya.

Kecuali kepada ibunda kandung Musa as, melihat itu, Asiyah binti Muzahim menyambutnya dengan baik. Ia memberikan berbagai macam hadiah yang mewah, karena Musa yang telah diangkat sebagai anak mau minum air susunya. (Abdul Aziz, 2004 : 289). Mereka tidak mengetahui bahwa wanita yang menyusui Musa adalah ibunda kandung Musa as.

Setelah masa menyusui usai, ibunda Musa menyerahkan kembali Musa kembali ke Istana Fir’aun. Dengan disambut penuh keriangan dan suka cita oleh Asiyah ia berkata pada pengawal dan pembesar istan. “Hari ini, sambutlah kedatangan putraku dengan berbagai hadiah dan kemurahan hati kalian. Kalian semua harus melakukannya, dan aku telah menugaskan seorang yang ku percaya untuk mencatat dan menghafal apa yang kalian lakukan dan berikan kepada Musa.”

Akhirnya, Asiyah kembali memberikan kasih sayang kepada Musa kecil. Ia selalu menjaganya dengan waspada, agar tidak sampai disakiti oleh keluarga Fir’aun lainnya. Ia juga berusaha agar Fir’aun mencintai dan memberikan kasih sayang seorang ayah bagi Musa. 

Dan kini, Fir’aun dan Asiyah, istrinya memelihara Musa dengan penuih perhatian. Anak itu tumbuh di bawah perlindungan dan kasih sayang mereka. hingga ia dewasa dan menjadi seorang lelaki perkasa. Ia juga menjadi orang paling bijaksana, paling cerdas, paling berani, dan paling kuat di masanya. Dan kelak ia pun menjadi salah satu dari Ulul ‘Azmi.

B. Melepaskan diri dari Perhiasan Dunia


Dengan kesempurnaan akhlak dan kemurnian jiwa, ia mampu untuk menghindari dari segala perhiasan dunia dan kenikmatannya. Ia mampu melepaskan diri dari kekafiran dan kedzaliman Fir’aun. Meskipun selama ini, Fir’aun adalah seorang suami yang senantiasa mencurahkan kasih sayangnya, dan melimpahkan segala harta dan kenikmatan kepadanya. (Ali dan Najib, 2009 : 161). Tetapi ia tidak pernah tergiur sama sekali dan selama ia dikenal masyarakat, bahwa ia termasuk wanita pilihan dan terpuji serta taat.

Munajat dan sikap Asiyah adalah teladan terindah dalam kehidupan menjadi istri Fir’aun, salah satu raja yang paling berkuasa pada saat itu, adalah  menjadi  impian banyak wanita. Dan kedudukannya sebagai ratu dalam sebuah istana yang megah adalah kenikmataan yang selalu diidamkan setiap wanita. Akan tetapi, pesona kenikmatan hidup tidak membuatnya berpaling dari nikmatnya iman yang ia rasa. (Muhammad Ali Al-Allawi, 2006 : 44)

Semua yang terjadi karena kesempurnaan akhlak dan kemurnian jiwanya, sehingga ia mudah menerima hidayah dari Allah  Swt, yaitu ketika perempuan tukang sisir  putri Fir’aun disiksa dan akhirnya diambil nyawanya oleh Allah. Kemudian Allah Swt langsung menyingkap segala pahala kedudukan, dan kemuliaannya di surga kepada Asiyah. Sehingga keimanan dan keyakinan Asiyah  terhadap ajaran Musa as bertambah, sehingga ia pun lebih mengutamakan iman dari pada Fir’aun dan meninggalkan segala perhiasan dunia.

C. Keteguhan Hati dalam Mempertahankan Keimanan


Setelah Fir’aun memasukkan Masyithah, tukang sisir putrinya ke dalam kuali yang mendidih airnya, ia tidak akan membiarkan seorang pun yang ada di istananya menjadi pengikut Nabi Musa as (Abdul Aziz, 2004 : 310). Apalagi, ketika ia mengetahui keimanan istrinya, Asiyah kepada Allah Swt. Maka, murkalah Fir’aun. Kemudian  ia segera memerintahkan pengawalnya untuk memasung Asiyah, dan membakarnya di bawah terik matahari. (Abdul Aziz, 2004 : 310)

Dan Fir’aun menancapkan tiang-tiang untuk menyiksan Asiyah. Ia mengikat kedua tangan dan kakinya, dan memerintahkan untuk meletakkan batu besar di atas dadanya. Fir’aun terus menyiksanya dengan siksaan yang sangat pedih, dan menyuruh kaumnya untuk memukulinya. Ia berkata kepada mereka “Jika kembali kepada agamanya semula, maka bebaskan dia”.

Tetapi, Asiyah terus bersabar dan mencari pahala dari semua siksaan itu. Ia tidak ingin kembali kepada agamanya semula, kemauannya tetap keras. Ancaman dan siksaan sama sekali tidak membuatnya gentar. (Ali dan Najib, 2009 : 156) Sehingga Allah tidak akan menyia-nyiakan keteguhan iman Asiyah. Maka, ketika Fir’aun dan pengikutnya meninggalkan Asiyah sendirian, para malaikat pun datang menaunginya.

Di tengah beratnya siksaan yang menimpa wanita mulia ini, ia senantiasa berdoa memohon untuk dibuatkan rumah di surga. Allah pun mengabulkan doa Asiyah, maka disingkaplah hijab dan ia melihat rumahnya yang dibangun di dalam surga. Diabadikanlah do’a wanita mulia ini di dalam Al Qur’an surat At Tahrim ayat 11 :

وَضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلٗا لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱمۡرَأَتَ فِرۡعَوۡنَ إِذۡ قَالَتۡ رَبِّ ٱبۡنِ لِي عِندَكَ بَيۡتٗا فِي ٱلۡجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِن فِرۡعَوۡنَ وَعَمَلِهِۦ وَنَجِّنِي مِنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ  ١١

Dan Allah membuat isteri Fir`aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: "Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir`aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim", (Q.S At Tahrim ayat 11)

Dan ketika melihat rumahnya di surga, berbahagialah Asiyah semakin hari semakin kuat kerinduannya untuk memasukinya, sehingga ia tak peduli lagi dengan siksaan Fir’aun dan pengikutnya, ia malah tersenyum gembira dan membuat Fir’aun bingung dan terheran-heran. 

Allah telah mewujudukan cita-citanya, ia berhasil melihat kedudukannya di surga sebelum ia meninggal dunia. (Ali dan Najib, 2009:158). Kini tibalah, Allah mencabut jiwa suci wanita shalihah ini dan menaikkannya menuju rahmat  dan keridhaan-Nya. Akhirnya, Asiyah meninggal dunia dalam keadaan tersenyum meskipun dalam siksaan pengikut Fir’aun. 

Ditegaskan oleh Sayyid Quthub (dalam Muhammad Ali al-Allawi, 2006:44) berkata : “Lihatlah istri Fir’aun, badai kekafiran tidak menggoyahkan dan menggoyangkan keimanannya sedikit pun. Ia hidup di istana Fir’aun sendiri meraih keselamatan. Tatkala terbebas dari terali istana kufur Fir’aun, ia memohon kepada Tuhannya untuk mendirikan rumah baginya di surga. Ia melepaskan diri dari hubungannya dengan Fir’aun dan perbuatan-perbuatan, terkutuklah, karena rasa takut dan keimanannya kepada Allah. Asiyah adalah wanita paling dekat dengan Fir’aun, namun mampu selamat dari pengikutnya justru pada saat ia hidup ditengah-tengah mereka”.



uchu budi Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk orang banyak.

0 Response to "Asiyah binti Muzahim (Istri Fir’aun) Wanita Penghuni Surga"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel